Curiga dan Skeptis Adalah Marwah Dwitunggal Bagi Seorang Jurnalis

Tatang Sunardi

MITRANEWS, Bekasi. – Jangan kaget dulu ketika membaca judul kalimat pada artikel ini. Dalam dunia jurnalistik, ada dua sikap yang tak pernah lekang oleh waktu, yaitu curiga dan skeptis. Keduanya sering dipahami berbeda, namun sejatinya adalah “dwitunggal”. Dua konsep yang berdiri berdampingan, saling menguatkan, dan menjadi marwah utama seorang jurnalis. Tanpa keduanya, profesi jurnalis kehilangan kompas etik sekaligus kehilangan tajamnya mata pena.

 

Pernyataan sejumlah pengamat, termasuk Rocky Gerung, yang menegaskan bahwa tugas jurnalis adalah “mencurigai sesuatu”, bukanlah ajakan untuk menuduh. Melainkan ajakan untuk menjaga roh dasar jurnalisme: keraguan yang terukur.

 

Curiga dalam konteks jurnalistik bukanlah prasangka negatif.

Curiga adalah insting kewaspadaan, dorongan naluriah seorang jurnalis untuk tidak menerima informasi secara polos, terutama ketika menyangkut kepentingan publik.

Baca Juga:  Memasukkan Jari ke Miss V, Bisakah Merusak Selaput Dara Dok?

 

Ketika jurnalis mendengar klaim, janji, atau pernyataan pejabat, insting pertama yang harus muncul adalah:

“Ada apa di balik ini?”

Itulah alarm profesional yang membedakan jurnalis dari penyampai informasi biasa.

 

Jika curiga adalah insting, maka skeptis adalah metodenya. Skeptis adalah keraguan metodologis yang mendorong jurnalis memeriksa, menguji, dan memverifikasi setiap informasi sebelum ditulis. Skeptis bekerja melalui beberapa tahap :

– Verifikasi berlapis

– Check and cross-check

– Analisis kontekstual

– Dan pencarian sudut pandang berimbang.

 

Tanpa sikap skeptis, curiga hanya menjadi prasangka. Tanpa curiga, skeptis menjadi kehilangan arah pertanyaannya. Keduanya menyatu sebagai dwitunggal marwah jurnalis.

 

Di era banjir informasi dan polarisasi politik, jurnalis mudah terbawa arus narasi pihak yang paling keras bersuara. Di sinilah dwitunggal curiga–skeptis menjadi benteng moral.

Baca Juga:  Pangeran Sake, Sosok Pahlawan dari Citeureup, Bogor

 

Dengan curiga, jurnalis tidak mudah terpengaruh. Dengan skeptis, jurnalis tidak mudah tertipu.

 

Dwitunggal ini menjaga profesi jurnalis agar tetap pada prinsip :

– Independen dari kekuasaan,

– Kritis terhadap setiap klaim,

– Objektif dalam menilai fakta,

– Dan bertanggung jawab kepada publik.

 

Ketika seorang narasumber mengatakan bahwa sebuah program pemerintah berhasil meningkatkan kesejahteraan, jurnalis yang menjunjung marwah dwitunggal tidak langsung mempublikasikannya.

 

Ia akan bertanya:

– Bukti datanya apa?

– Bagaimana kondisi nyata di lapangan?

– Apakah ada pihak yang tidak merasakan hasilnya?

– Apakah klaim itu punya kepentingan politik?

 

Proses bertanya itulah bentuk nyata dari dwitunggal tersebut bekerja.

 

Baca Juga:  Sosok Pramoedya Ananta Toer, Penulis yang Berkali-kali Dibungkam, tapi Tulisannya tak Pernah Benar - benar Terbungkam

Curiga dan skeptis bukan sikap pesimis. Keduanya adalah alat etik sekaligus intelektual yang memastikan jurnalis tetap menjadi benteng kebenaran. Sebuah dwitunggal yang tak boleh dipisahkan.

 

Selama jurnalis memegang dua sikap itu, maka marwah profesi akan tetap terjaga, kritis, tajam, independen, dan selalu berpihak pada kepentingan publik.

 

(Imam Setiadi)

Penulis: Imam SetiadiEditor: Arman