Selamat Pagi Danau Toba

0
51

Catatan Harun Al Rasyid

Pagi ini untuk kesekian kalinya, saya harus menginap di tepi Danau Vulkanik terbesar di dunia ini. Sejak saya pertama kali mengunjunjugi secara khusus Danau Toba pada bulan Juni tahun 1983. (Sebelumnya saya hanya sekadar lewat dalam perjalanan dari Padang ke Medan atau sebaliknya). Artinya selama tiga puluh enam tahun ini, saya tidak merasakan ada sesuatu yang baru pada Danau Toba, danau vulkanik kebanggan Sumatera Utara bahkan Indonesia. Kali ini saya datang bersama Rombongan Majelis Daerah KAHMI (Korp Alumni HMI) Kota Medan. Ikut dalam rombongan Wakil Ketua MW KAHMI Sumut Dr. dr. Delyuzar Haris, SpPA(K), Ketua MD KAHMI Kota Medan Prof. Dr. H. Hasim Purba, SH, MHum, Penggiat KFJS Ansari Adnant Tarigan.

Suasananya tetap seperti dulu. Sebelum masuk ke kawasan Danau Toba selalu mampir di Masjid di pinggir jalan Medan – Prapat. Masuk ke kawasan Prapat sudah ada hotel dan bungalow di kanan kiri di hampir sepanjang pinggiran Danau. Hotel-hotel yang dibangun menurut selera pemiliknya sendiri. Tidak terlihat ada grand desain penataan Kawasan Danau yang mumpuni yang bisa dijual sebagai suatu keunikan kawasan ini sebagai kawasan objek wisata favorit.

Masih ada para penjual mangga udang yang berjualan sembarangan di pinggir jalan dengan harga sesukanya. Pedagang ulos dan souvenir lainnya menjual produknya dengan harga tinggi tidak sebanding dengan kualitas produk. Pengunjung walaupun akhirnya membeli, itu karena “terpaksa” karena kebiasaan harus membawa ole-ole jika berkunjung ke satu tempat.

Apalagi jika kita bicara soal karakter masyarakat yang menghuni kawasan Danau Toba, masih terkesan garang dan tidak bersahabat. Tidak seperti masyarakat Bali yang ramah dan lemah lembut. Saya pernah mewawancarai seorang Kepala Desa salah satu desa di Samosir yang adalah orang asli daerah itu. “Jika pemerintah berniat menjadikan Danau Toba sebagai objek wisata dunia, yang harus terlebih dahulu dibangun adalah mainset masyarakatnya. Kita harus mengubah cara pandang masyarakat dari masyarakat yang selalu minta dilayani menjadi masyarakat yang melayani. Dalam memajukan industri pariwisata, pelayanan prima adalah yang utama. Pemerintah harus mendidik sumber daya manusia masyarakat sebagai operator wisata yang profesional. Harga-harga paket dan produk wisata harus rasional dan transparan, jangan ada pengunjung yang merasa tertipu dengan harga yang tak transparan,” katanya panjang lebar.

Masalah lain yang belum juga berubah adalah masih belum diterapkannya lebel halal di restoran dan cafe di kawasan Prapat. Bagi pengunjung muslim dan wisatawan manca negara ini menjadi persoalan serius karena mereka membutuhkan itu. Jika hal ini tida segera diatasi angka kunjungan wisatawan ke Danau Toba akan terus berkurang. Bagi pengunjung Muslim akan kesulitan bila ingin mencari makanan yang halal menurut mereka. Susah sekali dan selalu sak wasangka  akan termakan sesuatu yang diharamkan oleh agama mereka. Lebel halal bukan berarti kita mengalahkan keyakinan agama lain, tapi dalam rangka menghargai keyakinan agama yang lain pula.

Tapi harus diakui Danau Toba tetap jadi pilihan masyarakat Medan untuk beribur. Mungkin tidak ada saiangan lain. Berastagi dan Bahorok belum mampu bersaing soal keindahan alam. Tapi bila pemerintah gagal menumbuhkan kesadaran masyarakat yang sadar wisata, maka yakinlah jumlah wisatawan akan terus menurun atau sekurang-kurang naik sedikit. Tercatat selama tiga tahun terakhir jumlah kunjungan ke Danau Toba hanya naik 1 persen. Pada 2015, jumlah wisman yang berkunjung ke Danau Toba hanya sebanyak 229.288 orang. Angka kunjungan wisman mencapai titik tertinggi pada 2017, yakni 270.292 orang. Namun, tahun berikutnya angka kunjungan wisman ke Danau Toba justru turun 14% menjadi 231.465 orang.

Ini terbukti dalam kunjungan saya pada tanggal 9 sampai 10 November 2019 yang bertepatan dengan hari libur nasional dalam rangka Hari Pahlawan ini, Danau Toba nampak sepi, kapal-kapal wisata tidak berlayar, mereka hanya parkir di dermaga karena tak ada penumpang. Hotel-hotel terpaksa perang harga, mereka menurunkan tarif.

Ya, kesimpulan saya Danau Toba tiga puluh enam tahun yang lalu tidak jauh berbeda dengan yang ada saat ini. Padahal sejak tahun 2015 pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemkab/kota di kawasan Danau Toba sudah “mengeroyok” Danau Toba untuk dijadikan Geopark Kaldera Toba sebagai kawasan yang dilindungi UNESCO. Trilyunan dana sudah dikucurkan untuk “proyek” spektakular itu. Pemerintah juga sudah membentuk Badan Otorita Danau Toba.

Tahun 2015 tulisan saya berjudul “Mengangkat Kaldera Toba ke Pentas Dunia” terpilih sebagai Pemenang Lomba Karya Jurnalistik Pemprovsu. Saya memerlukan waktu lebih dari seminggu untuk melakukan reportase tentang Geopark Kaldera Toba itu. Saya mewancarai mulai dari pedagang ulos dan pegang mangga di pelabuhan Tigaraja dan Tomok, awak kapal ferry, masyarakat kecil, wisatawan asing, Kepala Desa hingga Gubernur Sumut. Kesimpulan saya waktu itu, program Geoparka Kaldera Toba tidak akan berhasil selama mental dan karakter masyarakat yang tinggal dan mengantungkan hidup tidak dirubah terlebih dahulu. Masyarakat Toba terlalu bangga dengan adat dan budayanya dan enggan berubah sehingga akulturasi budaya yang sangat berperan penting dalam industri pariwisata menjadi terabaikan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here