Harga Minyak Tertekan Dipicu Proyeksi Kenaikan Stok di AS

0
72

Medan — Harga minyak dunia sedikit tertekan pada perdagangan Selasa (27/3), waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan harga dipicu oleh pelemahan pasar saham dan data asosiasi industri yang menunjukkan kenaikan cukup mengejutkan dari persediaan minyak mentah.

Dilansir dari Reuters Rabu (28/3), harga minyak mentah berjangka Brent sempat menyentuh level US$71 per barel sebelum ditutup turun menjadi US$70,11 per barel. Hal ini terjadi akibat aksi ambil untung pelaku pasar pasca kenaikan harga selama beberapa hari.

Sementara,harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$0,3 menjadi US$65,25 per barel.

Di perdagangan pasca penutupan (post-settlement trading), ketika volume perdagangan menipis kedua harga minyak acuan tergelincir mengikuti pelemahan pasar modal.

Kemudian, harga minyak mentah kembali terperosok setelah asosiasi industi Institut Perminyakan Amerika (API) melaporkan kenaikan stok minyak mentah yang di luar perkiraan.

API menyatakan persediaan minyak mentah naik sebesar 5,3 juta barel pada pekan lalu menjadi 430,6 juta. Padahal, analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS menurun sekitar 27 ribu barel. Data resmi dari Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) baru akan dirilis pada Rabu (28/3), waktu setempat.

Sementara, kurs dolar kembali pulih setelah menyentuh level terendah dalam lima minggu terakhir pada awal sesi perdagangan, seiring meredanya tensi perdagangan. Penguatan dolar membuat harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

“Indeks dolar sedang menanjak dan hal itu mungkin sedikit membebani harga-harga (komoditas),” ujar Analis Pasar Senior RJO Futures Phillip Streible di Chicago.

Harga Brent telah melejit lebih dari 5 persen bulan ini, sedangkan WTI telah terdongkrak lebih dari 4 persen. Kedua harga mengarah kepada kenaikan tiga kali berturut-turut secara kuartalan yang terakhir kali terjadi pada 2010 silam.

Sementara kedua harga menanjak, Presiden Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch menyatakan bahwa performa Brent telah melampaui WTI. Akibatnya, selisih antara kedua harga pada kontrak bulan Mei telah melebar dan mengimplikasikan keberhasilan kebijakan pemangkasan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Sebelumnya, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat memangkas pasokan minyak sejak awal 2017.

Kesepakatan tersebut akan berakhir pada akhir tahun nanti, tetapi Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengatakan kepada Reuters bahwa OPEC dan Rusia tengah bekerja untuk menyusun kesepakatan yang berlaku untuk 10 hingga 20 tahun ke depan.

Kendati demikian, kesepakatan baru itu bukan berarti kebijakan pemangkasan produksi akan berjalan selama itu.

Lebih lanjut para analis menilai kekuatan pasar saat ini kemungkinan tidak akan bertahan lama. Analis Barclays Research memperkirakan defisit pasokan selama beberapa bulan terakhir membuka jalan terjadinya kelebihan pasokan akibat kenaikan produksi minyak AS. (*)

Sumber :
cnnindonesia.com

Editor :
Siti Aisyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here