Ulasan Film: ‘Guru Ngaji’

0
356

Medan — Sembari menatap cermin, Mukri (Donny Damara) membersihkan make up warna-warni yang ada di wajahnya. Ia berprofesi sebagai badut di pasar malam bersama Parmin (Ence Bagus).

Badut hanya profesi sampingan yang disandang Mukri, profesi utamanya adalah guru ngaji Desa Tempuran, Jawa Tengah. Meski begitu, Mukri menyembunyikan profesi badut karena bekerja menjadi bahan tertawaan orang, sedangkan guru ngaji merupakan profesi yang sangat terhormat.

Dua pekerjaan terpaksa Mukri ambil untuk membiayai seorang istri bernama Sopiah (Dewi Irawan) dan seorang anak bernama Ismail (Akonza Chaveliee). Sopiah memerlukan uang untuk kebutuhan sehari-hari, sementara Ismail memerlukan uang untuk biaya sekolah.

Pendaptan Mukri kadang tak mencukupi lantaran mengajar ngaji tanpa permintan upah berupa uang. Ia terpaksa meminjam uang pada pamannya sampai akhirnya menunggak berbulan-bulan.

Kisah di atas terasa miris, seorang yang melakukan hal baik selalu mendapat balasan yang kurang enak. Seperti itulah cerita film ini dikontruksi untuk memancing rasa iba penonton melihat kisah pilu Mukri.

Pada bagian awal film, penonton sudah disajikan adegan yang cukup miris. Paman Mukri menagih utang yang sudah nunggak dua bulan dan mengancam mengambil sepeda. Beruntung Mukri berhasil melobi sehingga sepeda tak jadi diambil.

Adegan miris kembali terjadi. Kali ini diawali dengan kabar bahagia.

Mukri memberikan uang kepada Sopiah untuk membayar utang kepada pamannya. Alih-alih membayar utang, Sopiah malah membeli satu set baju lengkap dengan rok dan jilbab tanpa sepengetahuan Mukri.

Cerita itu disambung dengan kehadiran pamannya yang menagih hutang. Karena uang sudah lenyap untuk membeli baju, sepeda yang menjadi satu-satunya kendaraan Mukri untuk bekerja terpaksa diambil.

Usai kejadian itu, tak ada percakapan antara Mukri dan Sopiah yang membahas mengapa uang dibelikan baju. Mukri seakan menerima tindakan bodoh istrinya yang semakin menyulitkan ia untuk mencari uang.

Konstruksi cerita miris di atas terasa lebih natural bila ada percakapan di antara Mukri dengan Sopiah yang membahas utang tersebut. Tapi, adegan tersebut tidak ada, sehingga cerita terasa sangat dibuat-buat bak sinetron di layar kaca.

Pada adegan berikutnya, sutradara Erwin Arnada menyajikan adegan miris dengan kontruksi serupa. Mukri mendapat pekerjaan sebagai badut dalam acara ulang tahun, tapi acara ulang tahun itu malah berakibat buruk untuknya.

Bukan membuat penonton larut dalam emosi, penyajian cerita seperti itu bisa membuat penonton bosan. Cerita disajikan dengan cara yang sama pada beberapa adegan hingga akhirnya cerita mudah ditebak.

Beruntung film ini dibintangi Donny yang kualitas aktingnya sudah tidak diragukan lagi. Ia benar-benar total memerankan karakter Mukri.

Narasi film yang memperlihatkan toleransi antar agama juga menjadi nilai tambah. Film ini memperlihatkan bahwa manusia bisa hidup rukun meski dikelilingi agama yang berbeda.

Bila melihat secara keseluruhan, film ini terkesan hanya menjual profesi guru ngaji, pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat dalam agama Islam. Banyak alur cerita yang sangat mudah ditebak dan membosankan.

Bila dapat diberi ponten, angka 6 dari 10 cukup diberikan pada film yang digarap oleh rumah produksi Chanex Ridhall ini.

Guru Ngaji bisa disaksikan mulai Kamis (22/3) besok di jaringan bioskop XXI dan CGV. (*)

Sumber :
CNN Indonesia

Editor :
Siti Aisyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here