Serangan AS Tewaskan Puluhan Warga Rusia, Moskow Tak Komentar

0
278

Medan — Serangan udara Amerika Serikat diduga menewaskan dan melukai puluhan kontraktor militer Rusia di utara Suriah, awal bulan ini. Namun, tidak seperti saat pesawatnya ditembak Januari lalu, Moskow menunjukkan respons dingin.

Saat pesawat Rusia ditembak jatuh pemberontak, Kementerian Pertahanan menyebut pilotnya sebagai pahlawan. Kini, Kremlin menepis laporan korban massal, tidak menyebut siapa saja yang tewas dan tidak menjelaskan alasan orang-orang itu berada di sana.

Keluarga para korban tewas mulai melontarkan pertanyaan. Sementara itu, detail soal alasan para kontraktor militer itu berada di wilayah kaya minyak yang jadi sasaran serangan perlahan mulai muncul.

Pada 7 Februari malam, pasukan yang terdiri dari 500 orang, sebagian besar kontraktor Rusia dan kelompok bersenjata Kristen pendukung pemerintah Suriah, melintasi sungai Euphrates dekat Deir Ezzor. Kota itu dikuasai oleh ISIS hingga akhir tahun lalu.

Orang-orang Rusia itu bekerja untuk perusahaan paramiliter bernama Wagner. Perusahaan itu mempunyai ratusan kontraktor di Suriah, membantu militer Rusia dan pasukan pro-pemerintahan.

Misi pasukan pada malam itu masih belum jelas, tapi mereka bergerak menuju ladang minyak dan gas yang berharga, Coneco. Area itu dikuasai oleh Pasukan Demokratis Suriah (SDF), kelompok bersenjata sokongan AS yang selama ini memerangi ISIS di negara tersebut.

Ketika pasukan pro-pemerintah mulai menembaki pangkalan SDF, AS merespons dengan serangan udara besar-besaran dan tembakan artileri selama tiga jam.

Valery Shebayev, yang mengunjungi sejumlah korban luka di rumah sakit Moskow, mengatakan kepada CNN bahwa kelompok itu diperintahkan untuk menguasai sebuah ladang minyak kosong. Namun, mereka tidak punya dukungan udara.

Shebayev, anggota kelompok Cossack yang menjadi sumber perekrutan Wagner, menyebut apa yang terjadi setelah itu adalah “sebuah pembantaian.”

Ruslan Leviev, aktivis Conflict Intelligence Team di Moskow, mengatakan pihaknya memperkirakan ada 20 hingga 30 warga Rusia yang tewas dalam peristiwa itu.

Pemerintah Rusia menolak mengonfirmasi laporan-laporan tersebut. Pada Kamis, juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova hanya mengakui lima warga Rusia mungkin tewas dalam serangan itu.

Ketika ditanya soal laporan jumlah korban yang lebih tinggi, juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov, mencoba untuk menghentikan topik tersebut. “Kami tidak punya informasi baru soal ini dan kami telah mengatakan semua hal yang perlu kami katakan.”

Respons dingin atas kematian para kontraktor ini bukan kejutan. Moskow berusaha untuk menggambarkan keterlibatannya di Suriah sebagai perang yang sebagian besar dilakukan lewat udara, dengan sesekali pertempuran darat.

Namun, jika peristiwa terakhir ini terkonfirmasi memakan banyak korban, maka ini akan jadi pertempuran paling mematikan antara AS dan Rusia sejak akhir Perang Dingin.

Amerika menyatakan telah mengikuti protokol untuk menghindari konflik. “Rusia mengaku mereka tidak tahu ketika kami menghubungi mereka soal pasukan yang melintas [Euphrates]. Saat pasukan itu mendekat, mereka diberi tahu bahwa penembakan dimulai,” kata Menteri Perahanan AS James Mattis, 11 Februari.(*)

 

Sumber :

CNN Indonesia

Editor :

Siti Aisyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here