Kenapa Mahasiswa Sekarang Bisu Untuk Zaadit Taqwa

0
243

By Atha

Suara heroik Mahasisawa Indonesia diera 66, 74,78 dan 98, seolah sudah menjadi tabu bagi gerakan mahasiswa era kini, tepatnya generasi mahasiswa era mahasiswa berhandphone ria.

Idealisme mahasiswa di masa lalu dilandasi niat luhur akan memperjuangkan nasib bangsanya, yang ketika itu mereka belum terkontaminasi dengan berbagai fasilitas kenikmatan hidup didunia ini.
Mahasiswa dulu hidup dalam kesederhanaan, dan rezim penguasa era itu masih memiliki moral sebagai penguasa yang tidak ingin merusak mahasiswa sebagai potret masa depan bangsa ini.
Memang rezim ketika itu sering melakukan tindakan-tindakan resesif. Tapi itu hanyalah tindakan membungkamkan sesaat, tanpa mencabut gerakan mahasiwa dari akarnya sebagai generasi perjuangan yang penuh idealisme.
Bahkan dengan memenjarakan tokoh-tokoh aktifis mahasiswa, sebenarnya para rezim penguasa secara disadari atau tidak malah telah menanamkan rasa patriotisme, menanamkan nilai-nilai seorang pejuang yang siap menghadapi penjara sebagai konsekwensi perjuangannya.
Raga mereka boleh dipenjara, tapi idealisme serta cita-cita mulia mereka tetap terpelihara bahkan semakin tertempa subur selama mereka di dalam penjara.
Rezim penguasa ketika itu, disadari atau tidak telah menjadikan para pejuang mahasiswa tersebut sebagai simbol-simbol idealisme perjuangan mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran.
Siapa yang tidak kenal nama besar Hariman Siregar, Ketua Umum Dewan Mahadiswa UI, dengan peristiwa Malarinya. Siapa yg tidak kenal nama besar Herry Akhmadi, Ketum DM ITB yang membuat tentara harus menyerbu kampus ITB dan dia memberikan nama anaknya M Gempur Soeharto.
Mahasiswa masa itu memang susah dibeli, karena mereka memang belum memerlukan banyak uang.
Mereka belum memerlukan kehidupan gaya bermedsos ria yang ujung-ujungnya memerlukan banyak uang.
Sedang mahasiswa generasi kini adalah generasi korban kemajuan teknology IT.
Mereka berlomba lomba memiliki handphone yangg canggih yang tentunya harganya tidak murah.
Lalu mereka memerlukan paket-paket pulsa yang juga tidak murah. Akibatnya mereka memerlukan uang.
Dan uang paling mudah didapat adalah dengan menjual idealisme perjuangan.
Sikap hidup ini bertemu dengan sikap moral rezim penguasa yang menghalalkan segala cara.
Mereka tidak peduli potret masa depan bangsa ini mereka hancurkan secara sistemik.
Gerakan mahasiswa dibungkamkan dengan pemanjaan-pemanjaan pada tokoh-tokohnya.
Kebanyakan para tokoh pergerakan mahasiswa kini sudah menjual dirinya, larut dalam kehidupan duniawi.
Mereka dimanja degan berbagai fasilitas.
Karena mereka adalah generasi yang sudah memerlukan uang.
Seperti kata bijak Aristoteles tentang orang miss. “Orang miss emosinya just Dan cenderung mengikutinya tanpa pikir panjang.
Karena kehormatan yang besar, mereka mudah tersinggung dan cepat marah jika diperlakukan tidal sebagaima mestinya.
Mereka tidak memerlukan uang karena belum merasakan bagaimana rasanya tidak mempunyai uang. Mereka lebih cenderung melakukan hal-hal yang mulia dari pada yang berguna.
Ketika kita sudah tidak mengenal lagi siapa tokoh-tokoh perjuangan mahasiswa akhir-akhir ini, tiba-tiba nama Zaadit Taqwa Ketum BEM UI menggema seantero nusantara dengan aksi simbolisasinya yang sangat mengandung makna yang mendalam. Priiiit,… kartu kuning untuk sang pemegang amanah rakyat.
Nusantara bergetar. Salam hormat untuk Zaadit, semoga gerakan moral intelektualmu akan menginspirasi dan
dan memotivasi kembali para mahasiswa, bahwa kalian adalah: agent of modernisation & agent of social change.
Bangsa ini memerlukan kalian!!!

Wassalam Atha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here