Berita  

Sekjend AsMEN Bekasi: Idul Fitri Bukan Kembali Fitrah, Ini Penjelasannya

Tatang Sunardi

MITRANEWS – Kota Bekasi. Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asistensi Media Nasional (AsMEN) Kabupaten Bekasi, Imam Setiadi, berupaya meluruskan pemahaman yang selama ini berkembang di masyarakat terkait makna Idul Fitri.

Menurutnya, istilah yang kerap diucapkan โ€œkembali ke fitrahโ€ tidak tepat jika ditinjau dari sisi bahasa. Ia menegaskan bahwa kata fitri dan fitrah memiliki arti yang berbeda dan tidak dapat disamakan.
โ€œSelamat Idul Fitri itu bukan berarti kembali ke fitrah. Fitri dan fitrah adalah dua hal yang berbeda, baik dari segi kata maupun maknanya,โ€ ujar Imam saat ditemui MDINEWS di kawasan Cikunir, Kota Bekasi, Kamis (20/3/2026).

Dalam penjelasannya, Imam menyebut bahwa kata fitri berasal dari kata dasar fitr yang berarti berbuka atau kembali makan setelah berpuasa. Sementara itu, fitrah memiliki makna kesucian atau kondisi asal manusia.

Baca Juga:  Komisaris MRT Jakarta Peringati Hari Lansia Nasional 2026, Dorong Lansia Tetap Aktif dan Produktif

โ€œSecara bahasa, fitri itu berkaitan dengan berbuka. Jadi makna yang lebih tepat adalah hari raya berbuka. Kalau kemudian diartikan sebagai kembali suci, itu sudah masuk pada pemaknaan lain yang berbeda konteks,โ€ jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa penyebutan Idul Fitri sebagai โ€œhari makan-makanโ€ bukanlah hal yang keliru jika dilihat dari realitas sosial di tengah masyarakat. Pasalnya, momen tersebut identik dengan maraknya berbagai hidangan khas yang disajikan untuk keluarga maupun tamu yang datang bersilaturahmi.

โ€œKenapa disebut makan-makan? Karena memang pada hari itu masyarakat menyambut dengan aneka makanan. Itu sesuatu yang nyata terjadi dan sudah menjadi bagian dari tradisi selama puluhan tahun,” tambahnya.

Imam juga menegaskan bahwa tradisi makan bersama bukanlah budaya yang negatif. Justru sebaliknya, hal tersebut menjadi sarana untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.
โ€œMakan bersama keluarga, menjamu tamu, itu bagian dari silaturahmi. Di situlah nilai kebersamaan terbangun dan hubungan yang jauh menjadi dekat kembali,โ€ ujarnya.

Baca Juga:  Prabowo Tiba di Filipina Hadiri KTT ASEAN ke-48, Mobil Maung Jadi Sorotan

Ia pun menilai, bagi masyarakat umum, Idul Fitri merupakan momentum istimewa untuk merayakan kebersamaan, saling bermaaf-maafan, serta memperkuat ikatan sosial melalui tradisi yang telah mengakar.

Namun demikian, Imam tidak menampik bahwa dalam perspektif lain, Idul Fitri juga kerap dimaknai secara lebih luas dan filosofis, termasuk dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

โ€œSecara filosofis, makna Idul Fitri bisa berkembang, misalnya dalam konteks pemerintahan sebagai momentum memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat. Tapi itu sudah masuk ranah pemaknaan, bukan arti bahasa,โ€ tutupnya.

Baca Juga:  Persipura Gagal Promosi, Stadion Lukas Enembe Membara

Dengan demikian, perbedaan pandangan terkait makna Idul Fitri sejatinya perlu ditempatkan secara proporsional. Di satu sisi, terdapat makna bahasa yang bersifat lugas, di sisi lain ada pula pemaknaan filosofis yang berkembang di tengah masyarakat. Keduanya dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika cara pandang, tanpa harus saling mematahkan. (Red)