Sosok  

Tujuh Keunggulan Album ‘Anugerah HarmoniI’, Konsep Rock To Metal dari Lawang Pitu

Avatar

MitraNews, Jakarta – Mendengarkan karya terbaru dari band metal ‘Lawang Pitu’ (L7), sama asiknya seperti menyaksikan show mereka secara live.

Itu bisa terjadi karena ada 7 (tujuh) keunggulan dari Debut Album L7 yang bertajuk ‘Anugerah Harmoni’, dari 10 soundtrack, yang dirilis di Hard Cafe, Bali, pada 14 Juni 2024.

Mari kita mulai dengan keunggulan yang pertama; ‘Formasi’.

Sejak berdiri tahun 2022, barisan squadron yang menjaga aroma metal dengan kental adalah; Doddy Katamsi (Vox – alumnus; Elpamas, Seven Years Letter, Kantata) | ACC (Bass) | Tommy Karmawan (Guitar – Garux) | Sadtriyo (Guitar – alumnus Junior – Koes Plus) | Arif Rahman (Drum). Doddy hanya 6 bulan bersama Lawang Pitu, ia pamit undur diri, dengan alasan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan dirinya mengikuti semua kegiatan Lawang Pitu.

Kini, formasi squadron L7 mengalami perubahan signifikan, yang siap memborbardir kuping para metalist, dengan gelegar karya idealis, mereka adalah; Trison Manurung (Vox – Roxx alumnus Edane) | ACC (Bass) | Jibonez (Guitar) | Sadtriyo (Guitar – alumnus Junior Koes Plus) | Arif Rahman (Drum).

Keunggulan kedua “vokalis”? Mari kita lihat peran dari Trison Manurung, sebagai front liner, dalam album ‘Anugerah Harmoni’ ini, menjadi sangat penting, karena suara vocalist dalam sebuah band metal, akan selalu menjadi signature yang akan dikenang.

Baca Juga:  Asisi Basuki : Persiapan Jelang Mini Konser di Teras 124 Jatimakmur Pondok Gede, Sudah Siap!

Identitas Roxx dalam diri Trison, memang tak terhindarkan. Namun sebagai seorang profesional, terdengar Trison sekaan mencoba membuat signature vocal yang berbeda untuk Lawang Pitu.

Coba simak lagu ‘Takdir’. Disini Trison, seperti juga pada lagu lainnya, ia mencoba melepaskan karakter suara khasnya saat menyanyikan Roxx maupun Edane. Trison mencoba menyatu dalam lirik ciptaannya yang bernuansa “cinta”, dan melebur kedalam musik Lawang Pitu.

Konon, butuh waktu sebulan untuk mengisi suara Trison dalam 10 track, agar bisa kawin dengan musik Lawang Pitu. Upaya Trison, tidak sia-sia. Enerjinya tumpah ruah disana. Dan terdengar menggelegar dalam nomor kritikal bertajuk ‘Pengkhianat’. Apalagi ada lead guitar Eet Sjahrani, yang menyayat ditengah rif-rif indah dari gitar Tommy Karmawan.

Keunggulan ketiga adalah pada lini “Gitaris”. Kita mulai dari Tommy Karmawan, yang meletakkan dasar komposisi musik “Rock to Metal”, dalam 9 lagu. Ia membentuk warna metal bagi Lawang Pitu.

Sementara itu, gitaris pengganti Tommy, Jibonez, meski hanya kebagian mengisi lead guitar dalam satu lagu bertajuk ‘Semangat Juang Pertiwi’, tapi itu sudah cukup sebagai legitimasi, bahwa ia gitaris yang tepat menggantikan Tommy.

Baca Juga:  Viola Model Video Klip Album Ditikam Badai, Suka Banget Musik Rock Metalica

Keunggulan keempat, adalah “aransemen”, yang dikemas dalam aransemen yang terdengar berbeda, jika dibandingkan dengan karya-karya metalizer lainnya di Tanah Air.

Dengarkan saja komposisi lagu ‘Semangat Juang Pertiwi’, yang menurut hemat saya, kelak bisa menjadi Anthem Song atau lagu tema bagi Lawang Pitu. Mood lagu yang riang, dengan lirik nan lugas. Menyelipkan kegelisahan dan kritisisme terhadap masyarakat dan meneruskan narasi ;

“NKRI, Harga Mati!”

Sebuah konsep aransemen yang jitu, yang digarap secara spontan, melalui workshop dan dialog yang panjang, hingga menjadi karya yang layak diperjuangkan.

Keunggulan kelima; “Bassist & Drummer”. Keduanya adalah penjaga pola rhytme dalam semua komposisi lagu Lawang Pitu. ACC dan Arief, bersama membangun groove ditengah hingar bingar suar distorsi, seperti dalam lagu ‘Dagelan’ dan ‘Pengkhianat’.

Keunggulan keenam, adalah “aransemen”, yang dikemas dalam konsep musikal yang terdengar berbeda, jika dibandingkan dengan karya-karya band rock dan metal lainnya di Tanah Air.

Dengarkan saja komposisi lagu ‘Semangat Juang Pertiwi’, yang menurut hemat saya, kelak bisa menjadi Anthem Song atau lagu tema bagi Lawang Pitu. Mood lagu yang riang, dengan lirik nan lugas. Menyelipkan kegelisahan dan kritisisme terhadap masyarakat dan meneruskan narasi ;

Baca Juga:  Rahasia Kisah Cinta Soekarno

“NKRI, Harga Mati!”

Setidaknya dalam catatan saya, setelah mendengarkan berulang kali selama lebih dari seminggu, ada 6 track lagu Lawang Pitu, yang disiapkan dengan konsep musikal yang sangat matang dan terukur, dalam sekala tema, lirik dan pola aransemennya.

Semua notasi lagu dan lirik, diciptakan bersama, antara personel; Tommy, Sadtriyo, Arif dan Asisi. Kecuali lagu ‘Takdir’ liriknya ditulis Trison dan lagu ‘Ditikam Badai’ liriknya ditulis Sadtriyo. Dan lirik dan lagu ‘Semangat Juang Pertiwi’, ciptaan Trison, ACC, Jibonez, Sadtriyo dan Arief.

Akhirnya, melengkapi keseluruhan rekaman album Anugerah Harmoni yang berlangsung di Private Atudio Lawang Pitu, ACC Records (ACC Studio Galaxy), mesti diakui, 10 track lagu semuanya terdengar proporsional, sebagai sebuah karya musik “rock to metal” karena audio yang mendukung, dari hasil mixing-mastering oleh Bayu Randu, kecuali lagu ‘Semangat Juang Pertiwi’, dimixing dan mastering oleh Stephanus Santoso.

Resensi
by Buddy ACe | Pengamat Musik