MITRANEWS, Sleman DIY. – Dalam rangkaian kegiatan Capacity Building LK2S Kabupaten Bogor ke Dinas Sosial Kabupaten Sleman, peserta diajak untuk melihat langsung salah satu Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) terbaik di Yogyakarta, yakni Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta. (22/9/2026)
Yayasan ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah LKS dapat berkembang secara profesional, holistik, dan berkelanjutan. Meskipun melayani wilayah dengan jumlah penduduk 1,1 juta jiwa, jauh lebih kecil dibanding Kabupaten Bogor yang mencapai 5,5 juta jiwa, tata kelola YSI dinilai sangat maju dan layak menjadi rujukan.
Yayasan Sayap Ibu berdiri pertama kali pada 25 Mei 1955 di Jakarta oleh Ny. Soelastri Soetomo (istri Bung Tomo) bersama Ny. Soekardi dan Ny. Garland Soenaryo. Yayasan ini lahir dari kepedulian terhadap nasib bayi-bayi terlantar akibat kondisi sosial yang memprihatinkan saat itu.
Nama “Sayap Ibu” diambil dari filosofi sayap induk ayam yang menjadi tempat berlindung anak-anaknya saat dalam bahaya. Filosofi ini menjadi ruh pelayanan hingga kini.
Cabang DIY sendiri didirikan pada tahun 1978 oleh Ibu Hj. Ciptaningsih Utaryo. Berawal dari sebuah ruangan kecil berukuran 10×5 meter di rumah keluarga KRT Sindudiningrat, Maguwoharjo, kini YSI Cabang DIY telah berkembang pesat. Hingga kini membina lebih dari 515 anak dan memiliki 9 unit layanan yang tersebar di 3 lokasi di Kabupaten Sleman, yaitu di Pringwulung, Kadirojo, dan Ganjuran.
Kepemimpinan YSI Cabang DIY saat ini berada di bawah Ketua Umum BRAy. Arum Yudaningrat, S.H.
Visi utamanya adalah melaksanakan usaha kesejahteraan anak yang holistik, terpadu, dan berkesinambungan bagi anak yang tidak memiliki orang tua, tidak diketahui kerabatnya, atau orang tuanya tidak mampu merawat.
Keunggulan YSI Cabang DIY terletak pada pembagian layanan berdasarkan usia dan kebutuhan, bukan satu panti untuk semua. Inilah yang bisa diadopsi oleh LKS di Kabupaten Bogor:
1.Panti I – Pengasuhan Anak/Balita Terlantar (Jl. Rajawali No.3, Pringwulung)
Layanan inti untuk perawatan bayi dan balita terlantar sejak usia 0-5 tahun. Seluruh kebutuhan gizi, kesehatan, dan kasih sayang dipenuhi layaknya keluarga.
2.Layanan Pengangkatan Anak (Adopsi)
YSI Cabang DIY merupakan salah satu lembaga yang diberi kewenangan negara untuk memfasilitasi adopsi anak secara legal dan terawasi. Prosesnya sangat ketat, sesuai aturan hukum, untuk menjamin kesejahteraan dan perlindungan anak. Tujuannya agar anak mendapatkan haknya dari orang tua angkat yang mampu secara moral dan materi.
3.Wisma Ibu (Women Crisis Centre) – Program Paling Inovatif
Ini adalah program unggulan yang membedakan YSI dengan panti lain. Wisma Ibu merupakan rumah aman yang khusus menangani perempuan dengan kehamilan tidak dikehendaki (KTD) akibat masalah sosial, ekonomi, dan kekerasan. Di sini, ibu hamil dirawat, didampingi secara psikologis, dan diberi keterampilan hingga melahirkan dengan aman. Setelah itu, bayi akan dirawat oleh yayasan dan dipersiapkan untuk proses adopsi yang sah. Program ini memutus mata rantai penelantaran bayi dan aborsi.
4.Panti II – Rehabilitasi Disabilitas Majemuk Terlantar
Panti khusus bagi anak-anak dengan disabilitas ganda yang terlantar. Penanganan dilakukan secara medis, fisioterapi, dan pendampingan khusus.
5.Panti III – Kemandirian Disabilitas (Ganjuran, Ngemplak)
Panti ini fokus untuk anak asuh dewasa di atas 17 tahun agar mandiri. Mereka tidak hanya diasuh, tetapi dilatih keterampilan hidup.
6.Bengkel Karya Anak dan Pemberdayaan Ekonomi
Di Panti III terdapat bengkel karya untuk mengembangkan minat dan bakat: membuat kerajinan tangan, melukis, seni rupa, serta belajar bercocok tanam sayur-mayur, buah, dan beternak lele, ayam, bebek, domba, hingga sapi. Hasil karya ini dijual dan hasilnya untuk kemandirian anak.
7.Pendidikan Inklusif
YSI mengelola unit pendidikan sendiri, yaitu TK Tumus Asih dan SLB G Daya Ananda untuk anak-anak dengan disabilitas ganda. Selain itu ada Taman Anak Sejahtera (TAS) Mutiara Hati / Tempat Penitipan Anak.
8.LK3 Kinasih (Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga)
Unit layanan konsultasi, informasi, pelatihan, dan pendampingan bagi keluarga yang mengalami masalah sosial.

Dari kunjungan ini, ada 3 hal yang dapat diadopsi oleh LKS di Kabupaten Bogor:
1. Spesialisasi Layanan: Jangan mencampur balita, anak cacat, dan dewasa dalam satu panti. Buat unit khusus sesuai kebutuhan.
2. Program Preventif seperti Wisma Ibu: LKS di Bogor perlu memiliki layanan krisis untuk perempuan, agar kasus pembuangan bayi bisa dicegah dari hulunya, bukan hanya merawat hilirnya.
3. Kemandirian Lulusan Panti: Panti tidak boleh hanya menjadi tempat penampungan. Harus disiapkan program kemandirian dan wirausaha seperti Bengkel Karya Anak di Panti III.
Dengan tata kelola seperti ini, YSI Cabang DIY membuktikan bahwa keterbatasan kapasitas wilayah bukan halangan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan holistik.
(Irwandi)












