MITRANEWS, Lebaran,- Banyumas. Deru mesin kendaraan pemudik yang mulai memadati jalur selatan Jawa Tengah menjadi penanda bahwa hari kemenangan sudah di depan mata. Namun, bagi keluarga Bapak Muhayat dan Ibu Tijah, warga Kecamatan Wangon, Banyumas, keriuhan Lebaran tidak hanya dirasakan di jalan raya, melainkan bermuara di sebuah kuali besar di belakang rumah mereka. (25/3/2026)
Di tengah gempuran aneka kue kaleng modern dan camilan instan, pasangan suami istri ini tetap setia menjaga tradisi turun-temurun, membuat Dodol/jenang Wangon.
Sebagai bentuk ritual kesabaran dan rasa syukur
Membuat jenang bukanlah perkara mudah. Bagi Pak Muhayat, ini adalah uji fisik dan kesabaran. Proses memasak dodol membutuhkan waktu hingga 7 sampai 8 jam di atas tungku kayu bakar yang panasnya harus terjaga stabil.
“Membuat jenang itu tidak bisa buru-buru. Kalau apinya terlalu besar, bawahnya gosong. Kalau terlalu kecil, adonannya tidak kenyal sempurna,” ujar Pak Muhayat sambil terus mengaduk adonan kental berwarna cokelat mengkilap itu dengan sebilah kayu panjang.

Bahan-bahannya sederhana namun bermakna, tepung ketan, santan kelapa murni, dan gula merah pilihan. Bagi Ibu Tijah, mengolah bahan-bahan ini adalah bentuk rasa syukur atas rezeki yang diterima sepanjang tahun.
“Ini cara kami bersyukur. Dari hasil bumi yang ada, kami olah jadi sesuatu yang manis untuk dinikmati bersama,” ungkap Ibu Tijah sembari menyiapkan daun pisang sebagai pembungkus alami.
Perekat Tali Kekeluargaan
Tradisi ini bukan sekadar urusan perut. Di Wangon, dodol /jenang adalah simbol perekat silaturahmi. Teksturnya yang lengket filosofisnya melambangkan harapan agar hubungan kekeluargaan tetap erat dan tidak mudah terputus.
Bagi keluarga Pak Muhayat, jenang buatan mereka memiliki tiga fungsi utama saat Lebaran:
Suguhan Utama: Menjadi hidangan wajib saat tetangga dan kerabat datang bersilaturahmi (halal bihalal).
Buah Tangan: Menjadi oleh-oleh paling dinanti bagi sanak saudara yang pulang dari perantauan di Jakarta atau kota besar lainnya.
Memori Pulang Kampung, Rasa manis legit dodol menjadi pengobat rindu akan suasana desa bagi mereka yang harus kembali ke hiruk-pikuk kota.
Oleh-oleh untuk Perantau
Saat masa mudik berakhir dan arus balik dimulai, dodol-dodol ini akan dikemas rapi ke dalam tas-tas para pemudik. Pak Muhayat percaya bahwa membawa dodol ke perantauan adalah membawa “doa” dari kampung halaman.
“Anak cucu yang balik ke Jakarta biasanya minta dibawakan banyak. Katanya, makan dodol/jenang di perantauan rasanya seperti masih berada di rumah. Itulah yang membuat mereka selalu ingat untuk pulang setiap tahun,” tambah Pak Muhayat dengan senyum bangga.
Di era yang serba cepat ini, apa yang dilakukan oleh Bapak Muhayat dan Ibu Tijah adalah pengingat penting bahwa tradisi adalah jangkar. Di balik legitnya sepotong jenang Wangon, ada kerja keras, cinta, dan harapan agar tali kekeluargaan tetap terjaga manis, sepanjang masa.(Ibnu)












