Benarkah Borobudur Pernah Menjadi Pusat Pendidikan Di Jaman Kuno?

MITRANEWS, Budaya — Perdebatan mengenai fungsi Candi Borobudur kembali mengemuka di ruang publik. Sejumlah narasi populer menyebut Borobudur bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pendidikan kuno atau bahkan “universitas” pada masanya. Klaim ini terdengar menarik, namun perlu ditinjau secara jernih dan proporsional.

Secara historis dan arkeologis, Borobudur adalah candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-8 Masehi oleh Dinasti Syailendra. Struktur bertingkatnya merepresentasikan kosmologi Buddha—Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu—yang dilalui melalui ritual pradaksina, yakni berjalan melingkar sebagai praktik spiritual menuju pencerahan.

Baca Juga:  Lawang Pitu Resmi Rilis Album Kedua “Lahir Untuk Jadi Pemenang”, Sajikan Semangat Baru Musik Rock Indonesia

Dalam konteks ini, fungsi ritual keagamaan Borobudur tidak dapat dipisahkan dari identitasnya. Namun demikian, Borobudur juga memiliki dimensi edukatif yang kuat. Ribuan panel relief di dinding candi berfungsi sebagai media pembelajaran visual, memuat ajaran moral, etika, hukum karma, serta kisah-kisah kehidupan Bodhisattva.

Bagi umat dan peziarah, relief tersebut menjadi sarana memahami ajaran Buddha tanpa teks tertulis. Dari sinilah muncul tafsir yang menyebut Borobudur sebagai pusat pendidikan spiritual.

Baca Juga:  Komunitas Madura Adakan Lomba Layang-layang Sebagai Ajang Silaturahmi 

Meski begitu, menyebut Borobudur sebagai “universitas kuno” perlu ditempatkan secara hati-hati. Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai metafora modern, bukan fakta akademik yang telah disepakati secara ilmiah. Tidak ditemukan bukti bahwa Borobudur berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal sebagaimana universitas dalam pengertian masa kini.

Borobudur pada akhirnya adalah ruang suci yang memadukan ritual, simbol, dan pembelajaran spiritual. Memahaminya secara utuh berarti tidak mempertentangkan fungsi ritual dan edukasi, melainkan melihat keduanya sebagai satu kesatuan dalam warisan peradaban tanah air Indonesia Raya. (Imam)

Penulis: Imam SetiadiEditor: Arman