MITRANEWS, Yogyakarta. – Rudi Winarso, S.Sn., M.Sn. Di Yogyakarta ia dikenal bukan hanya sebagai perupa, tapi juga desainer komunikasi visual, inovator teknologi kebudayaan, dan pegiat sejarah. Karya-karyanya memadukan seni, riset, dan teknologi dengan cara yang tidak biasa.
Lahir di Kertosono dan besar di Kediri, Jawa Timur, Rudi memilih menetap dan berkarya di Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan DKV di ISI Yogyakarta dan melanjutkan studi Magister Seni di kampus yang sama. Kombinasi desain dan seni murni membentuk gaya berkaryanya: fungsional sekaligus estetis.
Pionir Lukisan Ampas Kopi
Rudi Winarso tercatat sebagai salah satu pionir seni lukis menggunakan ampas kopi di Indonesia. Awalnya dianggap “konyol” karena memakai limbah konsumsi harian, kini teknik _coffee painting_ miliknya justru naik kelas menjadi karya koleksi.
Lukisan ini dipersembahkan dalam momentum 14 tahun undang undang keistimewaan Yogyakarta.
Ia bahkan membedakan karakter kopi untuk hasil visual. Kopi Robusta dipakai untuk bayangan tebal dan gelap. Sementara Arabica menghasilkan tone hangat dan transparan untuk area highlight. Kombinasi dengan Liberica dan kopi lokal melahirkan palet monokromatik cokelat yang kaya dimensi.
Eksperimennya dilakukan di dua media. Di atas kanvas hasilnya cepat dan presisi. Di atas kertas aquarelle, efek resapan kopi justru melahirkan kesan ekspresif dan spontan.
Proyek paling ikoniknya adalah _Seri Lukisan 10 Raja-Raja Yogyakarta_. Sepuluh lukisan Sri Sultan Hamengkubuwono I sampai X digarap manual di atas kertas A3. Karya ini pernah dipamerkan di Galeri Keselatan dan dipasarkan melalui Katalog Anyarmart.
Dekonstruksi Sejarah Lewat “Tertangkapnya Raden Saleh”
Selain teknik, Rudi juga dikenal karena keberaniannya membedah sejarah. Lukisan “Tertangkapnya Raden Saleh” tahun 2001 adalah bentuk parodi terhadap karya legendaris Raden Saleh “Penangkapan Pangeran Diponegoro”.
Jika Raden Saleh melukis kekalahan Pangeran Diponegoro, Rudi membaliknya: para pelaku Perang Jawa justru mengepung dan “menangkap” Raden Saleh. Tujuannya untuk membongkar ideologi perlawanan, bukan sekadar mengulang peristiwa.
Untuk karya sejarah, Rudi tidak main-main. Ia melakukan riset lapangan selama 1999-2011, menelusuri situs pengasingan di Manado hingga Makassar.
Validasi atas kerja risetnya datang saat karya tersebut dipilih tampil di pameran akbar _Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini_ di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 6 Februari – 8 Maret 2015. Pameran yang dikurasi Jim Supangkat, Dr. Werner Kraus, dan Prof. Peter Carey ini menyandingkan karyanya dengan lukisan asli Raden Saleh.
Inovator “Belia”: Becak Listrik Android
Rudi tidak berhenti di kanvas. Kecintaannya pada Yogyakarta diwujudkan lewat inovasi transportasi. Ia menciptakan _Belia_ – Becak Listrik Android.
Bentuknya tetap becak tradisional Jogja, tapi penggeraknya memakai motor listrik 350 watt. Baterainya tersembunyi di bawah jok dan bisa diisi 4 jam. Kecepatan 25 km/jam dengan penumpang, jarak tempuh 40 km. Ada sakelar maju-mundur, lampu sein, dan integrasi Android untuk navigasi pariwisata.
Konsep ini mendapat apresiasi dari pakar komunikasi visual Dr. Sumbo Tinarbuko sebagai terobosan yang menjawab modernitas tanpa mematikan tradisi.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Rudi juga aktif dalam proyek kebudayaan. Ia terlibat dalam _Negara Merobek Selimut Ibuku_, kolaborasi sastra dan seni rupa bersama Indra Tranggono, Isti Nugroho, Kamerad Kanjeng, Moelyono, dan Harjiman. Pamerannya digelar di Sanggar Keselatan, Kraton Yogyakarta.
Kini, karya dan pemikiran Rudi Winarso menjadi rujukan bahwa seni rupa kontemporer Indonesia bisa bicara sejarah, teknologi, dan identitas lokal sekaligus. (Suharmanto)










