MENELISIK KIPRAH JURNALIS DI ERA KOLONIALISME BELANDA

Avatar

MitraNews, Jakarta – Paska runtuhnya sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan dan beberapa kesultanan di Nusantara, perjalanan sejarah bangsa Indonesia memasuki babak baru.

Menjelang kurun waktu pada abad ke-20 lndonesia mulai mengenal pendidikan modern. Atas gagasan dan nasihat dari pada tokoh intelektual Belanda Snouck Hurgronje pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1901 memberlakukan “Politik Etis” sebagai bentuk balas budi kepada penduduk pribumi atas kontribusinya pada negara-negaa Eropa melalui program edukasi (pendidikan), irigasi dan emigrasi.

Akibat atau dampak positif dari politik etis bagi lndonesia adalah dibidang pendidikan misalnya, pembangunan sekolah-sekolah diberbagai wilayah teritorial Hindia Belanda. Dengan demikian maka lahirlah kaum terpelajar, tokoh-tokoh muda intelektual yang kemudian dengan kecerdasannya mereka berfikir, berjuang dari belenggu penjajahan Belanda.

HOS Tjokroaminoto, Sekarmaji Marijan Kartosoewirjo, Soekarno dan Semaun adalah tokoh-tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan kolonialisme pemerintahan Belanda.

Dibalik pergerakan sosial dan politik yang ekstrim melawan kebijakan kolonial Belanda, siapa sangka tokoh-tokoh muda tersebut ternyata berprofesi sebagai jurnalis.
Dibelahan dunia manapun pergerakan melawan penguasa yang tidak berkeadilan dan segala bentuk penjajahan itu erat kaitannya dengan aktivitas jurnalis/media informasi.
Karena fungsi media selain sebagai sarana informasi dan edukasi, media juga berfungsi sebagai control social bahkan mampu mengontrol jalannya roda pemerintahan.

Pada masa penjajahan kolonial Belanda media surat kabar dijadikan sarana untuk menyampaikan gagasan, mengedukasi masyarakat agar mengerti pentingnya kehidupan berbangsa, bernegara yang merdeka, berdaulat secara de facto dan de jure. Fakta sejarah membuktikan hampir semua pergerakan kemerdekaan Indonesia disponsori oleh para jurnalis yang pergerakannya dimotori para intelektual muda.

Pencetusan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berisi tiga ikrar yaitu; bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu lndonesia adalah bukti nyata kekuatan para jurnalis dan kaum intelektual muda yang membuat pemerintah kolonial Belanda semakin was-was.

Dikenal sebagai Mahaguru, pemimpin Organisasi Syarikat lslam dan mahir dalam berpidato, HOS Tjokroaminoto mendirikan surat kabar pada 15 April 1921 dengan nama “Oetoesan Belanda”.
Media ini sangat kritis terhadap pemerintahan Belanda, masalah sosial, poltik, buruh dan perdagangan serta budaya selalu menjadi pembahasan di media tersebut.

Ir. Soekarno atau yang sering disapa dengan nama Bung Karno sebelum tampil untuk membacakan teks Proklamasi, sejak masih berstatus sebagai pelajar Soekarno muda sudah menggeluti bidang jurnalistik.

Ia aktif menulis di surat kabar Oetoesan Hindia milik gurunya HOS Tjokroaminoto, bahkan mendapat jabatan kehormatan di surat kabar “Fadjar Asia” sebagai anggota Dewan Redaksi.

Kemampuan Soekarno muda dibidang jurnalistik semakin cemerlang ketika ia berhasil mendirikan majalah “Soeloeh Moeda Indonesia” pada tahun 1926.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini menggambarkan kedekatan antara anak didik dengan gurunya, kedekatan ideologis antara guru dan anak didiknya.
Menjadi anak didik dari Mahaguru HOS Tjokroaminoto selama bertahun-tahun, Sekarmaji Marijan Kartosoewirjo tidak hanya mendapatkan ilmu tentang keislaman dan politik. Jurnalistik juga ia tekuni semasa masih menjadi “anak kos” bersama Soekarno dan Semaun di rumah kediaman HOS Tjokroaminoto.

Pandai berpidato, cakap dalam berkomunikasi dan terampil dalam hal tulis-menulis menjadikan dirinya diangkat sebagai Sekretaris pribadinya.
Seperti halnya Soekarno, Sekarmaji muda juga bekerja dan aktif menulis di surat kabar Fadjar Asia. Uniknya ketika mereka masih menjadi anak kos, selain belajar dan bermain bersama ketiganya juga saling meledek, bercanda dan tertawa cekikikan disaat latihan berpidato.

Dan masih banyak lagi contoh figur tokoh-tokoh muda lndonesia yang berjuang melawan kolonialisme Belanda yang pada awalnya berprofesi sebagai wartawan. Misalnya Semaun, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, Wage Rebo Supratman, Mohammad Hatta dan lain-lain.

Sikap yang tegas, berintegritas tinggi, mahir dalam ilmu jurnalis dan kritis terhadap masalah kebangsaan para pejuang tanah air menjadi catatan penting bagi saya sebagai penulis.
Gagasan, pemikiran dan ideologi dari para pendiri (founding fathers) negara kita pasti masih mengalir dalam hati sanubari bagi setiap warga negara lndonesia yang memahami Nilai-nilai Dasar Negara/Pancasila dan UUD 1945.

“Jika engkau ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”. Adalah kalimat bijak dan sangat inspiratif dari Mahaguru HOS Tjokroaminoto.

Resensi
by Imam Setiadi | Penulis

Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia
Divisi Pendidikan Yayasan Pundi Amal Abadi Indonesia.