MITRANEWS, Bekasi – Gunung sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Burangkeng kembali menjadi sorotan. Puluhan truk pengangkut sampah dari berbagai wilayah Kabupaten Bekasi setiap hari berdatangan dan mengantre panjang untuk menurunkan muatan. Alat berat excavator estafet menaikkan sampah ke puncak. Pemandangan ini seolah menjadi rutinitas yang tak pernah berhenti, menegaskan betapa seriusnya persoalan sampah di daerah padat penduduk tersebut.
Doni, warga yang tinggal di sekitar TPS Burangkeng, mengeluhkan dampak kesehatan akibat tumpukan sampah yang semakin menggunung. Ia menyebut keluarganya sering mengalami gangguan pernapasan dan khawatir penyakit akan semakin mudah menyebar. “Bau sampah sudah tidak tertahankan, anak-anak sering batuk dan sesak,” ujarnya dengan cemas.

TPS Burangkeng menampung ribuan ton sampah setiap harinya. Kapasitas lahan yang terbatas membuat tumpukan menjulang tinggi, menimbulkan bau menyengat, pencemaran udara, serta meningkatkan populasi lalat dan tikus. Antrean truk sampah yang mengular setiap hari menjadi bukti nyata bahwa sistem pengelolaan sampah di Bekasi membutuhkan solusi jangka panjang.
Situasi ini terjadi setiap hari, terlihat langsung di lokasi terbaru pada Rabu, 23 April 2026. Antrean truk dan gunung sampah yang semakin tinggi menunjukkan masalah yang terus berulang tanpa penanganan signifikan.
TPS Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, menjadi pusat penampungan sampah utama. Lokasi ini telah beroperasi sejak 1999 dan kini menghadapi beban yang semakin berat.
Pertumbuhan penduduk dan konsumsi masyarakat yang tinggi membuat volume sampah meningkat drastis. Minimnya edukasi tentang pemilahan sampah, kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai, serta keterbatasan teknologi pengolahan membuat TPS Burangkeng kewalahan.
Pemerintah daerah berencana memperluas lahan dan menerapkan teknologi pengolahan modern seperti waste to energy (WTE). Namun, hambatan perizinan, pendanaan, dan kesiapan infrastruktur membuat solusi tersebut belum terealisasi. Para pengamat lingkungan menekankan perlunya edukasi masyarakat, kolaborasi dengan sektor swasta, serta investasi pada teknologi pengolahan sampah agar beban TPS Burangkeng berkurang.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana pemerintah mampu menyeimbangkan kebutuhan masyarakat dengan keberlanjutan lingkungan. Burangkeng tidak boleh terus menjadi simbol kegagalan pengelolaan sampah, melainkan titik balik menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan. Jika langkah konkret segera dilakukan, gunung sampah Burangkeng bisa berubah menjadi sumber energi baru yang bermanfaat bagi warga Bekasi. (Sukardi)












