Abdul Aziz, ST: ”Pensiun Bukanlah Akhir dari Segala-galanya”

0
74

Pensiun bagi seorang pejabat atau birokrat, sering sekali menjadi suatu hal yang menakutkan. Dengan pensiun, seseorang seolah-olah menjadi seorang yang tak berguna, tak bisa berbuat apa-apa. Takut disepelekan orang karena selama ini terbiasa memerintah. Wibawa menjadi hilang, takut bertemu orang banyak. Orang seperti ini selalu menganggap dengan pensiun semuanya akan berakhir. Itulah yang kadang-kadang menimbulkan berbagai penyakit, terutama yang disebut post power sindrom.
Tapi tidak demikian halnya dengan Abdul Aziz, ST, mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Belawan, sebuah badan khusus yang sangat vital dalam mengatur lalulintas maritim di sebuah pelabuhan besar. Akhir tahun 2018, Abdul Aziz memasuki masa purnabakti dan Aziz tidak gagap menghadapi situasi itu. Bagi Aziz, masa pensiun hanya sekadar perpindahan situasi dan kondisi saja. Kalau selama ini bekerja suatu aturan prosedur tertentu, maka dimasa pensiun bekerja dengan aturan prosedur yang lain.
“Kalau selama ini sebagai pimpinan, saya harus bekerja sesuai aturan sebagai PNS, maka sekarang ini saya bekerja sesuai aturan organisasi, partai atau aturan-aturan kemasyarakatan lainnya,” kata Aziz yang ketika pensiun langsung menceburkan diri dalam kegiatan kepartaian, organisasi kemasyarakatan dan olahraga. “Dengan demikian saya enjoy saja, malah lebih sibuk dari waktu saya menjadi pejabat,” kata Aziz kepada Rentaknews dalam suatu pertemuan silaturrahim, pada Sabtu (13/06/2020).
Aziz adalah ke 5 dari 6 orang bersaudara dari pasangan almarhum Darwis dan Nursinah. Ayahnya seorang pegawai sipil di Pangkalan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Tabing, Kota Padang Provinsi Sumatera Barat. Lelaki berperawakan kecil tapi tegap ini lahir di Padang, Sumatera Barat, pada tanggal 4 Juni 1960. Pendidikan Dasar dijalaninya di SD Negeri IV Tabing. Sekolah Menengah Pertama dijalaninya di SMPN 13 Tabing dan Sekolah Menengah Atas dijalaninya di STM Negeri I Padang. Tamat STM, Aziz melanjutkan pendidikannya dengan status ikatan dinas di Akademi Metrologi Jakarta. Sedangkan gelar Sarjana Teknik baru diraihnya setelah bekerja di BMKG dan Aziz melanjutkan kuliahnya di Fakultas Teknik Universitas Panca Budi Medan.
“In Syaa Allah, seluruh jenjang pendidikan itu saya lalui dengan baik dan lancar meskipun dalam kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Bahkan ketika di SDN IV Tabing, alhamdulillah saya selalu juara kelas,” kata Aziz. Menurut Aziz saat menjalani pendidikan dasar dan menengah, kondisi ekonomi keluarganya cukup memprihatinkan. Ketika itu Sumatera Barat baru saja keluar dari konflik antara Pemerintah Pusat (RI) dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berpusat di Sungai Dareh, Sumatera Barat. Kondisi ini berlanjut dengan munculnya Gerakan Pengkhianatan oleh PKI yang berpuncak pada tahun 1965.
“Dalam kondisi keprihatinan itulah saya dibesarkan sehingga saya menjadi manusia yang tabah dan gigih, apalagi sejak kecil, orangtua sudah berpisah maka saya otomatis dibesarkan oleh ibu. Untuk menghidupi keluarga, Amak (panggilan untuk ibu dalam bahasa Minang) berjualan kue. Saya ikut membantu Amak, menjajakan kue keliling kampung tanpa rasa malu,” kenang Aziz.
Setelah menamatkan pendidikan di Akademi Metrologi Jakarta tahun 1983, Aziz ditempatkan di Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah I Medan yang sekarang bernama Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah I. Pada tahun September 2008 Aziz ditugaskan mengikuti kursus singkat pengoperasian alat Kalibrasi (alat tera BMKG) di Jerman.
Tahun 2013 Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah I, Drs. Herry Saroso menugaskan Aziz memimpin Stasiun Meteorologi Tanjung Balai Karimun di Kepulauan Riau, sebuah daerah yang waktu itu masih dianggap daerah terpencil. “Waktu itu BMKG belum begitu dikenal dan belum difahami orang peranan pentingnya, namun saya bertekad memperkenalkan BMKG secara luas di Kepulauan Riau,” kata Aziz.
Ada kenangan yang sangat berkesan ketika itu. Dalam sebuah rapat dengan jajaran Pemkab Kabupaten Karimun yang dipimpin Bupati saya memperkenalkan diri dari instansi BMKG. Bupatinya berkomentar, “Ada rupanya BMKG di sini ya, selama ini kemana saja,”. Komentar Bupati itu memicu semangat aziz dan kawan-kawan untuk lebih memperkenalkan BMKG dan fungsi vitalnya kepada masyarakat. “Kami lalu bekerja keras, non stop running,” kata Aziz lagi.
Pada tahun 2015 BMKG melakukan assesment (lelang) untuk jabatan Kepala Stasiun Metrologi Maritim Belawan. Aziz mencoba peruntungannya dengan mengikuti ujian dan persyaratan administrasi yang sangat ketat. “Pada bulan Maret 2015 saya bersama enam orang calon yang lulus ujian tahap awal harus mengikuti ujian tertulis dan wawancara untuk penentuan calon Kepala StasiunMetrologi Maritim Belawan itu, Alhamdulillah saya lulus dengan nilai tertinggi dan selajutnya diamanahkan memimpin instansi vital itu sampai memasuki masa pensiun tahun 2018 dengan pangkat terakhir Pembina Tingkat I/IVB.
Aziz adalah orang yang sangat aktif, meski sibuk sebagai pimpinan sebuah instansi vital, tidak menghalangi aktifitasnya dalam kegiatan organisasi kemasyarakatan. Pada tahun 1993 – 1997 Aziz sudah dipercaya menjadi Wakil Ketua Pengurus Cabang Persis (Persatuan Islam) Kecamatan Medan Johor. Tahun 1997 – 2000 menjadi Sekretaris Persis Sumbagut lalu menjadi Sekretaris Pengurus Daerah Persis Kota Medan tahun 2000-2004. Aktifitas Aziz di organisasi kemasyarakat Islam ini berlanjut dengan menjabat sebagai Wakil Ketua II Pengurus Wilayah Persis Sumut tahun 2011-2015. Dalam muswil Persis Sumut tahun 2015 Aziz didaulat menjadi Sekretaris Pengurus Wilayah Persis Sumut periode 2015 -2019 dan pada muswil tahun 2019 Aziz kembali diminta untuk menjabat Sekretaris PW Persis Sumut periode 2019 – 2023 atau untuk masa jabatan periode kedua.
Selain aktif di Persis Aziz juga dipercaya menjadi Dewan Pengawas PZU Sumut periode 2012 – 2018, lalu menjadi Penasehat PZU Sumut periode 2018 – 2021. Aziz juga mau aktif di organisasi kedaerahan seperti Dewan Pengurus Pusat (DPP) Forum Masyarakat adat Deli (Formad) dan Pengurus Wilayah Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) Sumatera Utara. Bahkan Aziz, menjabat sebagai Ketua STM BM3 Kecamatan Medan Johor.
Dalam bidang olahraga, Aziz adalah pemegang sabuk Hitam DAN V di Perguruan Karate Kala Hitam ini, dimana Aziz juga aktif sebagai pengurusnya. Periode 2011- 2014 Aziz menjabat Wakil Sekretaris Pengurus Provinsi Perguruan Karate Kala Hitam Sumatera Utara, lalu menjadi Sekretaris Pengurus Besar (PB) Perguruan Karate Kala Hitam periode 2011-2013. Sebelumnya ketika bertugas di Karimun,Aziz juga menjabat sebagai Ketua Harian Pengurus Cabang Federasi Olahraga Karate-do (FORKI) Kabupaten Karimun periode 2014-2016. Saat ini Aziz tercatat sebagai instruktur di Perguruan Karate Kala Hitam itu.
“Aktif di olahraga karate sangat menyenangkan dan menggembirakan. Pendiri atau kancho Perguruan Kala Hitam ini Winta Karna mempercaya saya menjadi juri internasional Kyokushinkai-kan yang beraliran full body contact. Penunjukkan saya tentu saja melalui penilaian yang sangat ketat. Hal ini diabadikan dalam buku Perjalanan Perguruan Karate Kala Hitam sejak tahun 1972.
Setelah purnabakti dari PNS, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumatera Utara Dr. H. Haryanto memberi amanah kepada Aziz sebagai Biro Pengelolaan Aset DPW PKS Sumut. “Di Partai PKS sebenarnya saya sudah lama berkecimpung, namun karena status PNS saya tidak bis amenjabt di struktur partai,” kata Aziz lagi.
Pada tahun 2004 Aziz sudah lulus sebagai instruktur kepanduan DPW Sumut. Berturut-turut selama dua periode 2004 – 2008 dan periode 2008 – 2012 Aziz menjabat sebagai Ketua Deputi Olahraga dan Kebugaran.
Dengan aktifitas yang segudang itu, Aziz merasa bersyukur masih bisa bermanfaat bagi orang lain, saat ini suami dari Suriana ini tengah tekun-tekunnya belajar menjadi seorang jurnalis dengan bergabung sebagai reporter media online Rentaknews dan Mitranews. “Succes is not a coincidence. Feformed by showing hard-working, preserverence, learning, and socrifice, and the most important is to love. What you are doing or know what you want to do. Sukses bukanlah suatu kebetulan, ia terbentuk dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan dan yang paling penting cinta akan hal yang sedang atau ingin kamu kerjakan,” katanya lagi. (*)

Editor:
Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here