Resensi Buku “TAIPAN”

0
85

“Lama-Lama Indonesia punya Owe, hahahahahahahahahahahaha”
Oleh: Darwin Salim Sitompul

Kembali lagi kata-kata itu dimunculkan oleh William Yang dalam buku terbarunya “TAIPAN, Di Bawah Bayang-Bayang Papi”, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta, 2020, pada halaman 395.

Buku ini adalah buku kedua dari rencana tiga jilid sekuel tentang bangkitnya seorang Taipan yang dikenal sebagai The Magic Man of Banking di Indonesia. Kalau di buku pertama, penulis – yang profesi utamanya adalah konsultan keuangan – bercerita tentang bagaimana Constantine King (Wang Zhen) berhasil menjadi Taipan, di buku kedua ini dikisahkan tentang anaknya, Albert dan James.

Albert gila judi, meskipun bisa memperoleh gelar doktor matematika dari MIT di Amerika Serikat, namun penyakit judi dan main perempuan tidak bisa dihentikannya. Bahkan tahun 1987, bersama dengan Sigit dia ditawan di Las Vegas, karena kalah berjudi dan berhutang hingga 50 juta dollar! Mereka berdua akhirnya bisa bebas setelah “ditebus” oleh Toni Lin, anak salah seorang Taipan kawan dekat Soeharto. Toni Lin sebenarnya hanya ingin menebus Sigit.

James tampaknya mewarisi bakat ayahnya ditambah kenekatannya berspekulasi. Dia mau menggadaikan apa saja untuk mencapai tujuannya. Dia sempat digelari sebagai Wonder Boy of Banking. Bersahabat dengan Bill Clinton dan isterinya Hillary ketika Clinton berhasil menjadi Gubernur Arkansas. Menjadi Economic Hit Man, bermain dengan money laundry, dan berbagai permainan investasi keuangan dan pasar saham. Hampir bangkrut ketika terjadi bencana di Wall Street yang terkenal dengan peristiwa Black September tahun 1987. Bermain dengan CIA mencuci uang dalam perdagangan narkotik dan senjata. “Sebagai ganti atas jasanya merayu Hizbullah, Amerika harus menjual persenjataan kepada mereka, untuk mereka gunakan dalam perang melawan Saddam Hussein. Karena Amerika tidak bisa melakukan penjualan langsung, mereka menggunakan tangan Israel. Jadi Amerika menjualnya ke Israel, dan Israel menjualnya kembali ke Iran. … Amerika jual senjata ke Iran untuk menghadapi Saddam Hussein yang mana dia menyerang Iran atas perintah dan dukungan Amerika!” ( halaman 368). CIA bermain, dan James bermain bersama. Hasil perdagangan senjata itu digunakan pula untuk mendanai CONTRA di Amerika Latin.

James memilih jalan setan. Padahal, ketika dia mulai berbisnis di Amerika, dia sempat berkenalan dengan Sam Walton, pendiri bisnis ritel raksasa Walmart, dan dinasihati: “Dengar nak, … Masa depan kalian masih panjang … Apa pun yang kalian hadapi nanti, ingatlah, untuk tidak pernah menjual jiwa kalian pada Setan. Sekali kalian melakukannya, kalian akan selamanya terikat, dan menjadi budak mereka selamanya.” Namun, James memilih menjadi budak setan.

Buku yang sangat menarik untuk dibaca. Beberapa nama dalam buku ini memang disamarkan, namun tak sulit untuk bisa menebak siapa Tuan Lin, yang merupakan Hopeng (sahabat) Soeharto Sang Presiden Indonesia, dan punya penerus bernama Tony.

“Kenikmatan saat menemukan hal baru dari buku ternyata tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini” (halaman 209).

Medan, 14 April 2020, 23.19 WIB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here