Wabah Covid-19 Corona Merebak, Peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-70 Ditiadakan

0
72

MEDAN – MITRANEWS : Merebaknya wabah Covid-19 Corona yang menguncang sekitar tujuh milyar penduduk bumi mengakibatkan Peringatan Hari Meteorologi Dunia yang ke-70 ditiadakan. “Selama ini Peringatan Hari Meteorologi Dunia selalu kita adakan dengan berbagai acara, Namun tahun 2020 ini sehubungan dengan merebaknya virus Covid-19 Corona maka Peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-70 yang jatuh pada tanggal 23 Maret 2020 ini terpaksa ditiadakan,” kata Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Edison Kurniawan kepada Mitranews, kemaren
Padahal menurut Edison, tema Hari Meteorologi Ke-70 Tahun 2020 ini sangat penting yaitu “Climate and Water” sejalan dengan tema Hari Air Dunia atau World Water Day 2020 “Climate Change and Water”. Indonesia adalah satu satu dari 193 negara anggota World Meteorological Organization (WMO) yaitu sebuah organisasi antar pemerintahan yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bermarkas di Geneva. WMO secara resmi berdiri pada tanggal 23 Maret 1950, dan tahun 2020 ini genap berusia 70 tahun. Indonesia dalam hal ini diwakili Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.
Dalam kesempatan wawancara dengan Mitranews, Edison menyampaikan inti dari Pidato Sekretaris Jenderal WMO Dr. Patteri Talaas pada Peringatan Hari Meteorologi Dunia Ke-70 diantaranya: Pertama, dampak perubahan iklim telah mempengaruhi pola curah hujan yang terjadi di beberapa belahan bumi. Kedua, WMO memproyeksikan pada tahun 2050 kebutuhan air bersih akan mengalami peningkatan hingga 30% lebih tinggi dari saat ini seiring dengan bertambahnya populasi penduduk dunia. Ketiga, mendorong adanya kerjasama antara sektor pemerintah dan swasta melalui mekanisme Public Private Parthnership. Dan keempat, Lembaga Riset merupakan wadah yang cukup penting dalam meningkatkan layanan informasi cuaca kepada masyarakat.
Menurut Edison, tema ini sangat aktual dan relevan di mana air memiliki peran yang cukup penting dalam kejadian bencana hidrometeorologi di belahan bumi seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung dan rob. Saat ini, dampak perubahan iklim sudah dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat dunia. Indonesia sudah meratifikasi Protokol Kyoto (1997) dan Paris Agreement (2015) di mana diperlukan upaya penahanan laju kenaikan suhu 2 derajat C agar tidak melebihi 1,5 derajat C.
Dikatakannya, Tugas Pokok dan Fungsi BMKG sebagai penyelenggara kegiatan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dalam meningkatkan layanan informasi kepada masyarakat terkait dengan dampak perubahan iklim melalui upaya adaptasi dan mitigasi.
Sementara itu mantan Kepala BMKG Belawan Abdul Aziz, ST menanggapi ditiadakannya Peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-70 sebagai sesuatu yang dilematis. “BMKG selama 24 jam dalam sehari, tujuh hari dalam satu pekan, tiga puluh hari dalam satu bulan terus menerus mengamati cuaca pada jam dan waktu yang sama di 193 negara tanpa kecuali. Sekarang ini Covid-19 Corona sedang mengguncang tujuh milyar penduduk dunia yang ketakutan atas virus kecil yang berukuran tidak lebih dari 150 Nano ini. Bedanya BMKG membuat rakyat senang dengan informasi cuaca, iklim dan kegempaan yang selalu diinfokan BMKG tapi Covid-19 Corona malah membuat rakyat ketakutan dan cemas,” kata Aziz. (*)

Reporter:
An Jambak
Editor:
Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here