Diskusi Lafran Institute Akan Hadirkan Dua Ulama Internasional

0
107

MEDAN – MITRANEWS : Lafran Institute, lembaga kajian ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an yang aktif menggelr diskusi di Medan akan menghadirkan dua ulama internasional pada diskusi tanggal 13 Maret 2020 mendatang di Hotel Grand Kanaya Jalan Darussalam Medan. Dua ulama internasional itu adalah Zulfiquar Awan dari Ingris dan Umar Azmon Amirhasan dari Malaysia. Mereka akan membahas masalah “Islam, Demkokrasi dan Okhlokrasi”.Zulfiquar Awan adalah Direktur Dallas College di London dan Umar Amzon Amirhasan adalah ulama keturunan Minagkabau yang lahir dan besar di Malysia.
Zulfiquar Awan adalah seorang ahli politik dari London, Inggris, yang juga dikenal sebagai pendiri ‘The Humanitas’, sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan dunia politik dan geopolitik. Zulfiquar Awan akan mengetengahkan situasi peradaban dunia saat ini dari sudut pandang politik dan filsafat politik. Beliau akan memaparkan tentang siklus zaman dari perspektif sejarahwan Romawi, Polybios.
Polybios adalan pencetus siklus Polybios yang terkenal yaitu sebuah siklus yang membaca jalannya peradaban dengan tepat, mulai dari monarkhi, tirani, aristokrasi, oligarkhi, demokrasi, okhlokrasi dan kembali lagi ke monarkhi. Dari siklus Polybios itu, akan terbaca situasi peradaban sekarang.
Zulfiquar Awan akan memaparkan hal itu dalam papernya “Democracy or Okhclocracy?” Dari pemaparan Zulfiqur Awam ini akan akan tergambar apakah situasi kita saat ini masih layak dipandang sebagai demokrasi atau malah telah mengarah pada okhlokrasi? Mengingat saat ini situasi peradaban telah dinominasi oleh kaum bankir, pemilik bank sentral. Zulfiquar akan membedah tuntas bagaimana posisi manusia saat ini di dunia.
Zulfiquar Awan adalah juga seorang pengajar ilmu politik yang selalu menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat dunia politik. “Masa kini bukan lagi disebut politik, melainkan geopolitik,” ujarnya. Politik dan geopolitik memanglah berbeda. Ibarat modernitas dan posmodernitas.
Selain itu Zulfiquar Awan juga akan mengupas tuntas tentang sejarah klasik Romawi, Eropa klasik hingga terbentuknya modern state. Juga akan dibahas faktor-faktor yang membentuk modern state tersebut, mulai dari filsafat sampai melahirkan politik.Mulai dari munculnya alirah politik dalam Eropa klasik yang dipelopori oleh Machiavelli, Montesquei, Bodin sampai Rosseou.
Inilah aliran politik yang kemudian melahirkan ‘modern state’. Selain itu masa Eropa klasik, juga muncul aliran lain yang juga berbicara senada. Itulah yang disebut alirah monarchomach. Mereka adalah Duplessis Mornay, John Locke dan lainnya. Tapi kemudian aliran ini tidak dieksekusi menjadi sebuah sistem. Aliran ‘politik’ inilah yang kemudian dieksekusi menjadi sebuah sistem politik, yang digunakan manusia modern sampai kini.
Sedangkan Umar Azmon Amirhasan akan memaparkan situasi dan kondisi kaum Muslimin pasca demokrasi. Bagaimana peradaban Melayu dan Islam yang kemudian runtuh ditelan peradaban kuffar. Kaum Muslimin dan kaum Melayu wajib memahami situasi dan kondisi terhadap zaman yang kini berlangsung. “Umat harus wajib tahu apa yang sebenarnya terjadi di dunia kini,” ujarnya.
Menurut Umar Azmon, kaum Muslimin harus memahami apa yang berlangsung di Eropa klasik karena dari sanalah sistem yang digunakan sekarang berasal. Untuk itu, Umar Azmon akan mengetengahkan tentang sejarah terbentuknya sistem politik, hukum dan lainnya yang kini digunakan seantero dunia. Dan beliau akan mengetengahkan pendapat filosof Nietszche, yang dikenal dengan kosakata ‘nihilisme’.
Nietzsche sangat diperlukan kaum Muslimin untuk melihat bagaimana peradaban filsafat ini akan berakhir. “Orang Melayu harus menghidupkan kembali Islam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam,” ujarnya. Untuk itu, terlebih dahulu harus difahami situasi civil society yang melanda umat manusia saat ini. “Ini saatnya peradaban buah dari filsafat akan berakhir, dan kembali pada masa seperti tiga generasi awal dulu, masa khulafaur Rasyidin,” ujarnya.
Artinya, dari perspektif yang tak biasa, kedua pembicara ini akan menampilkan sudut pandang yang praktis yang belum pernah dipelajari di kampus-kampus sekarang ini. Karena perspektif yang dipelajari di kampus-kampus saat ini merupakan warisan peradaban barat, yang notabene dibentuk oleh rennaisance dan modernitas. Kedua pembicara akan menampilkan sudut sejarah dan pandangan para filosof, yang justru akan mematahkan teori-teori filosof itu sendiri, untuk kepentingan supaya umat kembali pada Islam.
Kedua pembicara ini adalah murid langsung dari Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama asal Skotlandia yang kini menetap di Cape Town, Afrika Selatan. Mereka telah banyak belajar dan berguru pada Shaykh Abdalqadir as sufi, yang juga dikenal dengan nama Ian Dallas. Ian Dallas kemudian memiliki sekolah yang disebut ‘Dallas College’. Sekolah ini adalah sekolah khusus yang diberikan bagi kaum muslim dan non muslim untuk membedah bagaimana situasi dan kondisi zaman yang merujuk kepada fitrah. Dallas College adalah sekolah strata D-3 yang terkenal di Cape Town, Afrika Selatan. Rencananya akan juga dibuka di Kuala Lumpur, Malaysia. Sekolah ini akan terbuka untuk umum dan bagi masyarakat kota Medan, tentu terbuka kesempatan untuk menimba ilmu di Dallas College Asia tersebut.(*)

Sumber:
Pressreleasse Lafran Institute
Editor:
Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here