FIB USU Seminarkan Masalah Konflik dan Integrasi Nasional

0
104

MEDAN – MITRANEWS : Program Studi S2 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU mengadakan Seminar Nasional bertemakan Pluralisme, Konflik dan Integrasi Nasional dalam Perspektif Sejarah, Rabu (27/11/2019) di Kampus FIB USU Jl. Universitas No. 19 Medan.  Tampil sebagai pembicara Peneliti pada Pusat Kajian Humaniora Universitas Andalas (Unand) Padang Dr. Zaiyardam, MHum dan Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Medan Dr. Ida Liana Tanjung, MHum dengan moderator Prof. Pujiati, PhD. 

Dalam paparannya Zaiyardam mengatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini sebenarnya penuh dengan ranjau-ranjau konflik yang setiap waktu bisa meledak dan memakan harta dan jiwa rakyat kecil yang tak berdosa. 

“Jika mau jujur, NKRI yang kita banggakan ini sebenarnya penuh dengan ranjau-ranjau integrasi nasional, yang setiap waktu bisa meledak, yang memakan harta dan jiwa rakyat kecil yang tidak berdosa. Namun, sepertinya penguasa menutup mata terhadap persoalan rakyat kecil, namun sangat reaktif, jika musibah menimpa pendukungnya,” kata Dosen Ilmu Sejarah pada FIB Unand ini.

Menurut Zaiyardam, saat ini kita sedang dipertontonkan oleh badut-badut penguasa sebuah drama tragedi kemanusiaan dimana negara tidak hadir di tengah-tengah rakyatnya. Lihatlah kasus Novel Baswedan yang tidak kunjung terungkap. Kasus Wamena yang memakan korban 10 orang Minang dan 22 orang Bugis tidak ada tindakan nyata negara. “Coba bandingkan dengan kasus penganiayaan terhadap Karundeng dalam waktu beberapa bisa dibongkar polisi. Ini kan bibit-bibit konflik yang disemai pemerintah sendiri,” kata Zaiyardam lagi.

Jadi menurut Zaiyardam, keinginan untuk mencapai integrasi nasional itu hanyalah omong kosong karena untuk menuju integrasi nasional itu banyak sekali ranjau-ranjau konflik yang bertebaran di berbagai pelosok tanah air.

Lebih lanjut Zaiyardam mengatakan aktor penting dari penanam ranjau-ranjau integrasi itu justru penguasa sendiri. Penguasa yang seharusnya melindungi masyarakat, malah turut menjadi menindas rakyat. Hal ini ditampilkan secara terbuka, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya ditemukan dalam teks Pancasila. Perampasan tanah rakyat, korupsi yang marajalela, dan tindak kekerasan oleh aparat nagara membuat kedamaian semakin jauh dirasakan masyarakat kelas bawah.

“Bangunan kebijakan yang dibuat pemerintah seperti piramida terbalik. Pada bagian atas terjadi kaloborasi penguasa dengan pengusaha, sehingga menjadi kelompok yang diuntungkan. Kelompok ini bisa menikmati kehidupan di republik ini seperti dalam syurga. Bagi mereka yang memiliki uang, mereka menemukan syurga dengan uang yang dimilikinya. Mereka bisa mendapatkan apapun juga yang mereka kehendaki. Tidak ada kekuatan yang dapat menghalangi mereka,” kata Zaiyardam.

Konflik di perkebunan sawit saja, kata Zaiyardam sangat banyak. Misalnya, pembantaian di ladang Sawit Mesuji. Riwayat panjang dari bentrok yang terjadi di Mesuji terjadi antar berbagai elemen seperti masyarakat asli, pendatang, dan security swasta yang disewa oleh perusahaan sawit. Konflik yang telah terjadi sejak 1999 lalu itu berulang kembali sampai 2019, ditandai dengan meninggalnya lima orang warga.

Potensi konflik dan anarkisme di wilayah lainnya juga masih banyak. Ada ribuan perusahaan perkebunan sawit yang memiliki potensi konflik berdarah. Semua itu tidak terlepas dari kebijakan penguasa dalam melindungi pengusaha dan sebaliknya melakukan eksploitasi rakyat kecil.

Seminar yang dimoderatori oleh Prof. Pujiati, PhD ini juga menampilakan pembicara Dosen Universitas Negeri Medan Dr. Ida Liana Tanjung, MHum. Seminar ini dihadiri dan dibuka Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Dr. Budi Agustono, MA dan diiuti para dosen dan mahasiswa program S2 dan S1 serta masyarakat umum. (*)

Reporter:
An Jambak

Editor:

Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here