74 Tahun Harian Mimbar Umum, Majulah, Majulah, Majulah…..

0
73

Catatan Bang Harun

Sabtu, 16 November 2019, sebagai wartawan alumni Harian Mimbar Umum, saya diminta bertestimoni tentang pengalaman saya selama berkarier di Harian Mimbar Umum, koran tertua di Sumatera Utara. Koran tertua? Ya, karena Mimbar Umum terbit pertama kali tanggal 6 November 1945, beberapa waktu setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Kehadiran Mimbar Umum ke haribaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang tidak terlepas dari perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka dari penjajahan Belanda. Wikipedia mencatat Harian Mimbar Umum didirikan oleh Udin Siregar dan Imballo Siregar. Saat terbit pertama kali koran ini tercatat dipimpin oleh M. Saleh Umar yang dikenal juga dengan nama pena Surapati dan A. Wahab sebagai Pemimpin Redaksi serta A. Halim sebagai Redaktur Pelaksana.

Mereka memilih nama Mimbar Oemoem. Nama yang menyiratkan semangat perjuangan. Mimbar adalah tempat khotib berkutbah menyampaikan hal yang hak dan hal yang bathil atau tempat pemimpin berpidato menggelorakan semangat melawan penjajahan. Oemoem adalah massa, publik, rakyat Indonesia yang ingin merdeka.

Nama ini tentu saja momok yang menakutkan bagi Belanda yang tetap ingin menjajah Indonesia. Para pemimpin Mimbar Umum lalu dikejar-kejar sehingga Mimbar Umum terbit bergerilya dari satu kota ke kota lain, seperti Pematangsiantar dan Tebingtinggi. Kuatnya tekanan Belanda mebuat redaksi kucar kacir sehingga gagal terbit beberapa waktu. Baru tanggal 6 Desember 1945 trio Arif Lubis, Bustaman dan Syamsuddin Manan menerbitkan kembali Koran Mimbar Umum. Sejak saat itu Mimbar Umum eksis terbit dan menjadi koran perjuangan terkemuka di Sumatera Utara.

Pada tanggal 6 November 1975 Arif Lubis menyerahkan penerbitan Mimbar Umum kepada H. Hasbullah Lubis, seorang pengusaha percetakan dan penerbitan Firma Hasmar. Ketika wafat tahun 1983 kepemimpinan H. Hasbullah Lubis dilanjutkan putra tertuanya H. Fauzi Lubis sampai beliau meninggal tahun 2014 dan kepemimpinan Mimbar Umum dilajutkan pula oleh putra beliau Muhammad Hasbi Al-fauz Lubis.

Artinya, inilah generasi kelima kepemimpinan Harian Mimbar Umum yang saat ini tentu menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. (Generasi pertama Surapati cs, genersai kedua Arif Lubis cs, generasi ketika Hasbulah Lubis, generasi keempat Fauzi Lubis dan generasi kelima Hasbi Lubis). Kini tantangan Koran Mimbar Umum adalah perkembangan teknologi digital infokom 4.0 yang ditandai dengan tumbuh dan menjamurnya media online akibat transformasi prilaku masyarakat yang beralih dari medi cetak ke media digital/online.

Saya bergabung dengan Mimbar Umum, tahun 1992 di masa kepemimpinan Elman Saragih sebagai Pemimpin Redaksi dan pernah bertugas di bagian redaksi sebagai wartawan dan pernah sebentar berkarier di Bagian Iklan. Waktu reformasi dan tumbuhnya beberapa surat kabar baru di Sumut saya hijrah ke surat kabar Realita Pos yang usianya tak terlalu panjang.

Ketika berkarier di Mimbar Umum waktu itu adalah kami menjadikan Mimbar Umum sebagai koran investigasi sehingga waktu itu berita-berita Mimbar Umum adalah berita-berita yang “tidak biasa”. Para reporter Mimbar Umum waktu itu adalah orang-orang yang “menyelusup” ke berbagai sektor kehidupan lapisan masyarakat. Saya harus menyebut nama-nama reporter handal Mimbar Umum waktu itu seperti Chokienk Susili Sakeh, Riza F. Tahir, Nizaruddin, Jallaluddin dan Zulfikar Tanjung dan generasi sesudah mereka seperti Laswiyati Pisca, Haidil H. Hadi, Herman Maris dan saya mungkin termasuk generasi ini.

Waktu itu zaman orde baru, informasi hanya ada dari pengusaha dan suratkabar waktu itu dikendalikan pemerintah sehingga berita yang ada hanya berita dari pemerintah. Dan kami “melawan” itu, berita-berita Mimbar Umum waktu itu adalah berita-berita yang “tak biasa itu”, yaitu berita dibalik fakta yang nampak sehingga masyarakat pembaca mempunyai “second opinion” sebagai penyeimbang berita-berita maisntrem waktu itu.

Saya tentu saja berharap, semoga kepemimpinan Mimbar Umum yang sekarang mempunyai strategi yang jitu untuk menghadapi tantangan zaman saat ini. Tentu saja kunci utamanya adalah SDM yang unggul. Dalam kesempatan menyampaikan testimoni itu saya katakan: “Bagaimana mungkin seorang wartawan media tidak faham apa yang disebut unsur berita, struktur berita dan nilai di balik berita. Untuk itulah pentingnya diadakan inhouse traning, wokrshop dan pelatihan-pelatihan jurnalistik lainnya untuk meningkatkan kualitas pemberitaan”.

Dalam buku Leksikon Susastra Indonesia  yang diterbitkan Balai Pusataka  tahun 2000 lalu telah tercatat nama-nama  wartawan Mimbar Umum yang juga satrawan seperti Amir Hasan Lubis  atau dikenal dengan nama pena Buyung Sale), Aoh Karta Hadimadja, AA Bungga, BY Tand, Harun Al Rasyid (tinggal di Asahan-pen), Rusli A. Malem, Laswiyati Pisca, LK. Ara, Sides Sudyarto DS, Suyadi San, Taguan Hardjo, Zainal Arifin AKA, Zaldi Purba dan Harun Al Rasyid.

Semoga visi dan misi para pengelola Mimbar Umum yang sekarang dapat mengembalikan zaman keemasan dan kesuksesan Mimbar Umum sebagai media perjuangan umat saat ini. Selamat 74 Tahun Koran Mimbar Umum, majulah, majulah, majulah. Sekali layar terkembang pantang surut ke belakang.

Medan, 17 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here