Memahami Sikap Prabowo

0
43

Kecewakah Kita Pada Prabowo?

Oleh : Harun Al Rasyid     

Saya memang berusaha menahan diri untuk tidak menulis sesuatu tentang Prabowo sejak beliau dinyatakan kalah dalam Pilpres 2019 oleh Mahkamah Konstitusi. Juga tidak mau berkomentar tentang manuver-manuver yang dilakukannya menjelang pelantikan Presiden dan penyusunan kabinet. Alasannya karena saya tidak mau menebak-nebak bagaimana ending dari pertarungan politik ini. Sebagai relawan Prabowo, saya berusaha memahami sikap-sikap politik beliau. Tentu saja saya melihatnya dalam konteks kemaslahatan bangsa dan negara.

Sampai akhirnya, kita semua menyaksikan Prabowo dilantik oleh seterunya di Pilpres 2019 sebagai Menteri Pertahanan. Saya juga menyimak setiap tanggapan dan komentar rakyat terhadap keputusan beliau bergabung dengan pemerintah dan bersedia menjadi Menteri Pertahanan. Baik yang ditulis secara apik, rasional dan berdasarkan fakta di media-media mainstrem, maupun yang ditulis secara sembarangan di media-media sosial.

Kebanyakan memang menilai negatif langkah Prabowo dan Gerindra berkoalisi dengan orang yang mengalahkan beliau di dua kali ajang Pilpres ini. Sindiran, bulian dan bahkan cacian datang dari orang-orang yang mendukungnya selama ini. Sampai-sampai ada yang mengatakan Prabowo berkhianat kepada pendukungnya. Hebatnya, pembenci Prabowo pun ada yang gerah dengan sikap Prabowo ini dengan mengatakan: “Untuk apa bertarung dalam Pilpres, telah menghabiskan banyak uang dan menimbulkan banyak  korban jiwa kalau akhirnya bersedia juga menjadi pembantu Presiden?”

Kenyataannya memang sangat sedikit orang yang memahami langkah Prabowo ini sebagai suatu strategi atau siasat dalam menyelamatkan bangsa dan negara ini. Tapi ahli-ahli strategi mengatakan langkah Prabowo ini sangat jitu dan punya target yang jelas, karena posisi yang diterima adalah Menteri Pertahanan yang merupakan satu dari tiga posisi menteri yang akan berperan penting jika negara dalam keadaan darurat. Maksudnya bila Presiden dan Wakil Presiden tidak bisa menjalankan fungsinya, maka kekuasaan akan dipegang secara bersama-sama oleh Menteri Pertahanan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri.

Terlepas dari semua strategi dan analisa itu, saya hanya ingin mengatakan: “Apakah kita perlu kecewa dengan sikap Prabowo itu?”

Seorang sahabat saya, Nana Erdiana Noerdin, yang termasuk dekat dengan Prabowo menulis di akun facebooknya mengatakan: “Kalau tidak sedang memperjuangkan sebuah gagasan besar tentang bagaimana negara dan bangsa harus bisa memposisikan diri dalam konteks geo-politik dan geo-ekonomi global ini dan mengambil manfaat untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, saya yakin beliau tidak akan melakukan ini semua.”

Ya benar, saya sependapat dengan sahabat saya itu. Mari kita kilas balik hal-hal yang disampaikan Prabowo pada masa kampanye dulu. Prabowo sangat mengkhawatirkan keutuhan NKRI karena lemahnya pertahanan negara kita, bukan saja dalam hal perang yang konvensional menggunakan alutsista, tapi juga dalam peperangan modern proxywar. Prabowo sering menyebut soal OBOR yang merupakan program RRCina yang merupakan ancaman bagi kedaulatan Indonesia dalam bidang ekonomi dan geopolitik.

Prabowo juga menulis buku “Paradoks Indonesia’ yang mengambarkan hal-hal yang kontradiksi dalam kondisi rakyat Indonesia. Negara kita kaya raya tapi rakyatnya sangat banyak yang hidup miskin. Untuk itu Prabowo berobsesi ingin mewujudkan Indonesi yang mandiri, yaitu mandiri pangan, mandiri energi dan mandiri air.

Lalu pertanyaanya adalah, apakah dengan menjadi Menteri Pertahanan, Prabowo bisa mewujudkan obsesinya? Seharusnya iya, karena soal pertahanan bukan hanya persoalan alutsista belaka tapi bagaimana bangsa ini juga punya ketahanan pangan, energi dan air. Kita berdoa semoga Prabowo tidak menjadi cebong blasteran, karena perkawinan kampret dan cebong. Prabowo harus menjadi  Gajah Mada yang bukan raja tapi bertekad menyatukan nusantara.

Terakhir saya ingin mengatakan bahwa dalam politik kita memang sulit memahami langkah seseorang, karena ibarat bermain catur, bisa jadi mengumpankan pion  untuk bisa memakan kuda. Politik memang begitu. Jadi kita tak perlu kecewa, karena permaianan catur ini belum berakhir.

Kwala Bekala, 24/10/2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here