Ulasan Film: ‘A Quiet Place’

0
253

Medan — Pepatah ‘diam adalah emas’ agaknya cocok menggambarkan film garapan sutradara John Krasinski, A Quiet Place. Sepanjang 90 menit, film ini mampu menghadirkan malapetaka, meski tanpa kata-kata.

A Quiet Place berkisah tentang perjalanan hidup keluarga Abbott di penghujung dunia. Penduduk bumi mulai punah karena diburu oleh sekelompok makhluk asing pemakan manusia.

Makhluk-makhluk tersebut buta, tetapi sangat peka terhadap suara. Kesunyian menjadi kunci umat manusia jika ingin bertahan hidup. Segala kegiatan dan peralatan harus seminim mungkin menimbulkan suara. Berkomunikasi antarsesama pun harus menggunakan bahasa isyarat.

Namun perjuangan Lee Abbott (John Krasinski) menjaga keluarganya lebih sulit dari itu. Selain puasa berbicara, dia juga harus menjaga tiga anaknya yang masih kecil, yang begitu sulit diatur.

Istri Lee, Evelyn Abbott (Emily Blunt), juga tengah hamil. Melahirkan di tengah kepungan makhluk pemakan manusia yang sensitif terhadap suara, jadi awal petaka keluarga Abbott.

Film ini begitu apik memanfaatkan kesunyian untuk menimbulkan kengerian. Detail-detail kecil tak dilupakan dalam penggambaran suasana dunia yang mulai sunyi.

Sejak adegan pembuka, A Quiet Place sudah mengenalkan premis-premis secara jelas. Penonton akan mudah merasakan betapa mencekamnya hidup dalam senyap.

Penjelasan tentang umat manusia yang hampir punah, lalu kemunculan makhluk asing, serta suara sebagai ‘sumber penglihatan’ makhluk itu dijelaskan lewat detail seperti headline surat kabar dan kosongnya jalanan.

Film dari Paramount Pictures ini juga menampilkan ‘simulasi’ pembunuhan dalam adegan pembuka untuk menjelaskan hal yang bisa terjadi jika seseorang terlalu berisik.

Konflik yang dihadirkan juga sederhana karena mengambil fokus pada kehidupan sebuah keluarga.

Pertentangan emosional antara ayah yang ingin menjaga keluarganya dan anak yang merasa terkekang, jadi suguhan menarik.

Momen melahirkan juga sangat brilian. Apa lagi kegiatan manusia yang lebih berisik dibandingkan prosesi melahirkan dan tangisan seorang bayi? Bayangkan jika itu harus dilakukan dalam diam, dengan ancaman terbunuh oleh makhluk asing.

Keputusan untuk menggunakan bahasa isyarat juga tidak bisa dianggap remeh. Di era film modern seperti sekarang, dialog tentu jadi ujung tombak sineas merangkai cerita.

Namun tak berlaku di film ini. Hanya dua scene dari film A Quiet Place yang menampilkan pembicaraan lewat pengucapan kata. Selebihnya, gerak tangan dan ekspresi muka jadi sarana penyampai pesan.

Meski ada sulih bahasa di setiap kode isyarat yang disampaikan, sineas A Quiet Place berhasil merangkai cerita utuh yang disertai ketegangan nyaris tanpa dialog, dan itu mengesankan. Emosi penonton diincar agar tak perlu membuat takut bioskop dengan efek-efek kejutan layaknya film horor lain.

Alih-alih penuh teriakan ketakutan, bioskop justru turut hening karena penonton terbawa suasana.

Meski begitu, film ini bukan tanpa cacat. Mungkin karena lingkup konflik yang terlalu kecil, film ini kurang menghadirkan klimaks yang apik. Kengeriannya seakan tak sampai ke puncak. Sampai film berakhir, tingkat kengerian cenderung sama dari awal sampai akhir.

Dengan kelihaian mengolah kesunyian jadi malapetaka, A Quiet Place mampu memuncaki box office Amerika Serikat di pekan pertama April 2018.

Film ini meraup US$50 juta, mengalahkan Ready Player One, Blockers bahkan Black Panther. A Quiet Place sudah bisa disaksikan di bioskop di Indonesia sejak 3 April 2018. (*)

Sumber :
cnnindonesia.com

Editor :
Siti Aisyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here