Konsul AS Ajak Wartawan Medan Nonton Film Spotlight

0
364

MEDAN — Konsul Amerika Serikat di Medan Juha P. Salin mengajak wartawan Medan nonton film berjudul “Spotlight” karya sutradara Tom McCarthy.

Spotligt adalah film drama biografi kriminal Amerika Serikat yang diproduksi tahun 2015 dan diproduseri Blye Pagon Faust, Steve Golin, Nicole Rocklin dan Michael Sugar.

Di Indonesia film ini dirilis tanggal 17 Februari 2016. Film ini mendapat penghargaan Academy Award untuk Film Terbaik. Juga mendapat nominasi untuk Aktor Pendukung Terbaik.

Film ini bercerita tentang berita headline koran Boston Globe berjudul “Church Allowed Abuse by Priest for Years” yang terbit tanggal 6 Januari 2002. Berita ini ditulis Mikhael Rezendez, salah seorang tim investigasi koran tersebut. Boston Globe membentuk tim Spotligt untuk investigasi kasus pelecehan seksual yang dilakukan para pendeta di Gereja Katolik Boston. Bermula dari pelaku awal pendeta John Geoghan yang sedang diadili di pengadilan Boston. Hasil investigasi Spotlight ternyata kasus ini bagaikan gunung es di tengah lautan yang hanya puncaknya saja yang nampak ternyata ada 90 anak yang dilecehkan para pendeta tapi selama ini korban tidak berani mengungkapkannya.

Berita ini menggemparkan publik Boston dan menjadi perbincang setelah berita tragedi 9/11.

Film ini menjadi menarik karena menceritakan bagaimana teknik-teknik yang digunakan Tim Spotlight untuk mengungkap kasus ini. Tim yang terdiri dari Walter Robinson (Michael Keaton), sebagai editor serta akrab dipanggil Robby. Disusul kemudian tiga reporter : Michael Rezendez (Mark Ruffalo); Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams); Matt Carroll (Brian d’Arcy James); dan Ben Bradlee Jr. (John Slattery) sebagai deputy editor

Cerita film ini diawali dengan ditunjuknya Marty Baron (Liev Schreiber), editor baru di Tim Spotlight. Sebagai editor baru, Marty Baron ingin kasus ini diungkap lebih lanjut. Maka dimulailah “proyek investigasi” besar ini dengan melakukan pengumpulan data ke perpustakaan, wawancara dengan korban dan pelaku, lalu mengejar konfirmasi Uskup Besar Boston Kardinal Law yang walaupun sudah tahu kasus pelecehan itu tapi berusaha merahasiakan kasus tersebut.

Pada tahap awal, Tim Spotlight menemukan tigabelas orang korban. Tapi dari wawancara telpon dengan mantan pendeta Richard Sipe yang sekarang menjadi psykoterapist (dalam film disuarakan oleh Richard Jenkins, sebab kemunculannya hanya lewat suara di telpon), yang memberi tambahan informasi sehingga korban yang semula terdata tuga belas orang membesar menjadi 90 korban.

Film ini secara tak langsung menyadarkan kita bahwa kasus pelecehan ini tidak saja terjadi di Boston tapi bisa terjadi di betbagai kota besar di dunia. Pada akhir film sutradara Tom McCharty menampilkan 50 kota di dunia yang mungkin saja disitu bisa terjadi kasus serupa.

Di dunia jurnalistik Tim Spotlight ini mendapatkan penghargaan Pulitzer Prize pada tahun 2003.

Konsul AS Juha P. Salin sebelum pemutaran film ini mengatakan pihaknya dalam menjalin hubungan dengan masyarakat Sumatera Utara sering mengadakan kegiatan movie screening film-film Amerika yang legendaris. Karena di film Spotlight ini bercerita tentang wartawan maka yang diundang umumnya jurnalis dengan bekerjasama dengan AJI Medan.

Ketua AJI Medan Agus Perdana usai menonton film ini mengatakan apa yang diceritakan dalam film ini menunjukkan bagaimana seharusnya media mengungkapkan kasus-kasus sensitif seperti ini. “Saya tidak bisa membayangkan jika kasus ini terjadi fi Indonesia, bagaimana media memberitakannya? Kita bisa belajar dari Tim Spotlight Boston Globe ini” kata Agus.

Hadir dalam kegiatan movie screening ini Asley Hans yang adalah Marketing Manager Film Spitlight. (*)

Reporter:
Novi Lubis

Editor:
Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here