Akademisi Nilai Aneh Penunjukkan Plt. Gubsu dari Polisi

0
183

Catatan Pagi:

Bang Harun AR

 

Senior saya Drs. Wara Sinuhaji MHum, yang sehari-hari Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU yang juga sering menanggapi masalah perpolitikan di Sumatera Utara ini merasa aneh dengan rencana Mendagri Tjahjo Kumolo yang akan menunjuk Irjen Pol Martuani Sormin Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Sumatera Utara pasca berakhirnya masa jabatan Tengku Erry

Sontak saja kabar ini ramai dikomentari masyarakat Sumatera Utara baik melalui media massa cetak, media online dan media sosial. Mendagri Tjahjo Kumolo berpegang pada UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada dan Permendagri Nomor 1 Tahun 2018.

“Aneh juga kurasa kebijakan Mendagri ini. Tengku Erry sebagai Gubsu kan tidak ikut Pilgubsu. Menurut saya biarkan sajalah beliau tetap sebagai Gubernur menunggu masa jabatannya berakhir sembari menunggu gubernur baru terpilih.Tapi sebagai Mendagri tentunya beliau lebih paham lah dari kita, melihat celah hukumnya. Kalau pun diganti, ngapain harus dari lembaga kepolisian. Di Universitas Sumatera Utara (USU) ini banyak akademisi yang mampu untuk itu,” tulis Wara menaggapi pertanyan Dr. Jolly Sikumbang, seorang temannya yang juga menjadi dosen di FKM USU.

Tapi menurut Wara Sinuhaji, jika Tengku Erry Nuradi harus diganti karena sesuai Undang-undang, tapi tidak perlu dari lembaga kepolisian. Jika pun dari internal Pemprovsu atau Kemendagri tidak ada pejabat yang dinilai mampu dari USU banyak tokoh yang dinilai mampu untuk itu.

Okelah, kalau kita katakan penunjukan tersebut berdasarkan kedua aturan itu tapi ternyata  Pasal 110 ayat 10, UU No. 10 itu berbunyi: Untuk mengisi kekosongan jabatan Gubernur, diangkat penjabat Gubernur yang berasal dari jabatan pimpinan tinggi madya sampai dengan pelantikan Gubernur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tjahjo menafsirkan  Irjen Martuani termasuk dalam kategori pejabat pimpinan tinggi madya itu. Tapi Permendagri No. 1 tahun 2018 pasal 4 ayat 2 mengatakan  Penjabat gubernur berasal dari pejabat pimpinan tinggi madya/setingkat di lingkup pemerintah pusat/provinsi. Lho, apakah aturan ini harus dilanggar Pak Mendagri.

Mungkin Mendagri Tjahjo Kumolo lupa ada TAP MPR No. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri dan TAP MPR No. VII/MPR/2000 tentang peran, fungsi dan kedudukan TNI dan Polri. Kedudukan Polri langsung di bawah presiden, sebagaimana tecantum dalam pasal 8 UU No 2 Tahun 2002.

Akademisi dari Univeritas Muhammadiyah Sumatera Utara Shohibul Ansor juga menilai wacana Mendagri ini juga kurang tepat. “Kalau saya tak salah, memang masa jabatan beliau (Tengku Erry) lebih cepat berakhir bahkan sebelum Pilgubsu. Tapi menurut saya pemahaman Tjahjo atas UU rasanya ngak tepat, meski sebelumnya ia sudah lakukan kesalahan (—menujuk pejabat Polri dan TNI jadi Plt KDH di Aceh dan Sulbar), tidak berarti kesalahan itu dilanjutkan. Kepolisian biarlah menseriusi tugasnya sebaik-baiknya,” tulis Shohibul di media sosial.

Menurut catatan Shohibul, Gubsu Gatot Pujo Nugroho dan Wagubsu Tengku Erry Nuradi dilantik berdasarkan Surat Keputuan Presiden RI Nomor:  62/P TAHUN 2013 tanggal 21 Mei 2013 dan pelantikannya dilakukan pada tanggal 17 Juni 2013 maka masa jabatannya berakhir tanggal 17 Juni 2018. Mereka diusung PKS, Hanura, Patriot, PBR, dan PKNU.

Yang lebih aneh lagi ternyata Gubernur Sumatera Utara  Tengku Erry Nuradi menanggapi enteng saja rencana Mendagri itu. “Jabatan saya berakhir 17 Juni, maka setelah itu baru Plt. Itu berada pada kewenangan Kemendagri, kalau Plt Gubernur Sumut itu harus Keppres, sementara bupati/wali kota itu cukup Kemendagri,” kata Tengku Erry dalam keterangan persnya.

“Tentu saya pada kapasitas tidak bisa menilai pemerintah atasan, itu etika birokrasi. Tapi kami yakni bahwa bahwa pemerintah atasan pasti bisa memikirkan yang terbaik bagi provinsi yang ada di Indonesia, apalagi yang berhubungan dengan pilkada,” ujarnya.

“Saya mohon maaf saya tidak bisa memberi penilaian terhadap pemerintah atasan karena pasti mereka itu memiliki kebijakan penilaian yang cukup baik,” sambungnya.

Jadi, ya udahlah kalau memang begitu.(*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here