Eksodus Masyarakat Karo : Dari “Pemena” ke Agama Samawi

6
1989

Oleh Drs. Wara Sinuhaji, M. Hum (Dosen Ilmu Sejarah FIB USU)

 

Medan, Mitranews-Pemena adalah pra agama dan kepercayaan masyarakat Karo, yang memiliki makna kepercayan pertama, yang dipegang dan dipahami oleh orang Karo.

Masyarakat Karo percaya segala sesuatu yang ada di dunia ini, baik yang kelihatan atau yang tidak, merupakan ciptaan Dibata. Menurut mereka ada tiga konsep pemahaman Dibata berdasarkan tradisi pemena yang harus dipercaya.

Konsep pertama, yaitu Dibata Atas yang juga disebut Guru Batara yang memiliki kuasa dunia atas atau angkasa. Kedua disebut Dibata Tengah atau Tuhan Padukah Ni Aji, dialah yang menguasai jagat alam raya dunia. Ketiga adalah Dibata Teruh atau Tuhan Banua Koling atau Tuhan yang menguasai bumi bahagian bawah.

Selain itu ada dua unsur kekuatan lain yaitu Sinar Matawari dan Si Berudayang. Sinar Matawari adalah simbol cahaya dan penerangan. Ia berada saat matahari terbit dan matahari terbenam. Dia mengikuti perjalanan matahari dan menjadi penghubung dengan ketiga Dibata itu. Si Berudayang adalah seorang perempuan yang tinggal di bulan. Dia sering kelihatan dalam pelangi dan membuat dunia tengah tetap kuat dan tidak digoncang oleh angin topan.

Manusia dalam kepercayaan pemena terdiri dari tiga, tendi (jiwa), begu (roh yang sudah meninggal, hantu) dan kula (tubuh). Ketika seseorang meninggal, maka tendi akan hilang dan tubuhnya akan hancur. Namun, begu tetap ada.Tendi dan tubuh merupakan kesatuan yang utuh. Ketika tendi berpisah dengan tubuh, maka seseorang akan sakit. Pengobatan akan dilakukan dengan mengadakan pemanggilan tendi. Jika tendi tidak kembali, maka yang terjadi adalah kematian.

Orang Karo pra beragama meyakini bahwa alam semesta diisi oleh sekumpulan tendi. Setiap titik alam semesta mengandung tendi. Kesatuan dari keseluruhan tendi yang mencakup segalanya ini disebut dibata, sebagai kesatuan totalitas dari alam semesta. Setiap manusia dianggap sebagai semesta kecil. Manusia merupakan kesatuan dari kula (tubuh), tendi (jiwa), pusuh peraten (perasaan), kesah (nafas), dan ukur (pikiran). Setiap bahagian berhubungan satu sama lain. Kesatuan ini disebut sebagai keseimbangan dalam diri manusia.

Daya pikiran manusia dianggap bertanggung jawab ke luar guna menjaga keseimbangan dalam dengan keseimbangan luar. Bentuk pemahaman ini menggambarkan manusia sebagai semesta besar. Manusia merupakan kesatuan dari dunia gaib, kesatuan sosial, dan lingkungan alam sekitar.

Hal ini menunjukkan suatu pandangan bahwa keseimbangan dalam semesta kecil tidak akan sempurna tanpa tercapainya suatu keseimbangan alam semesta secara luas. Oleh karena itu, banyak orang Karo melakukan acara acara adat dengan tujuan mencapai keseimbangan pada diri manusia.

Pemena sering di cap sebagai stigma Perbegu setelah peristiwa Gestok. Masyarakat Karo sendiri tidak menyukai istilah ini karena begu sering diartikan dengan memuja atau menyembah setan atau roh jahat. Sejak masuknya misi Injil Kristen dan Islam, penganut paham ini mulai mengalami penurunan namun tidak dalam skala besar. Menurut Teridah Bangun, jumlah orang Karo yang memeluk agama, baik Protestan, Islam, maupun Katolik sampai tahun 1965 baru terhitung puluhan ribu orang. Eksodusnya orang Karo meninggalkan kepercayaan ini, dan memeluk agama samawi terjadi setelah tahun 1967.

Meningkatnya orang Karo memeluk agama tidak lepas dari peristiwa Gestok. Peristiwa ini membawa problematika yang memdalam bagi kehidupan beragama bangsa Indonesia, dimana setelah lengsernya rezim ORLA (Orde Lama)  dan digantikan ORBA (Orde Baru), agama menjadi salah satu kunci legitimasi pemerintahan Orde Baru. Masyarakat harus memilih agamanya, jika tidak akan dicap komunis.

Demi menguatkan legitimasi tersebut, pemerintah mengeluarkan Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 dan Undang Undang Nomor 5 tahun 1969. Agama-agama yang dianut penduduk Indonesia antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Konghuchu sendiri dipinggirkan pada masa Orde Baru. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 477/74054/1978, kolom agama di KTP harus diisi dengan pilihan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Apabila ada agama di luar peraturan pemerintah itu maka dianggap sebagai aliran kepercayaan saja, termasuk agama lokal. Pemena yang dianut masyarakat Karo tak ada dalam pilihan yang ditawarkan oleh pemerintah. Apabila masyarakat Karo memutuskan untuk tidak mengisi, maka dicap Komunis atau PKI.

Pelabelan tentu akan membuat hidup mereka sulit. Anak mereka tidak bisa menjadi PNS dan TNI jika ada cap PKI. Masyarakat Karo sendiri akhirnya harus memilih salah satu agama resmi pemerintah tersebut apabila tidak ingin disebut sebagai komunis. Apalagi segala urusan administratif seperti pendaftaran perkawinan, kematian, akta lahir anak dan lain lain hanya dapat dilakukan apabila memiliki KTP.

Hal itulah yang menyebab kurun waktu itu mayoritas masyarakat Karo memutuskan untuk eksodus meninggalkan Pemena dan berpindah memilih salah satu agama resmi yang ditetapkan pemerintah.

Budayawan muda potensial, Ahmad Arief Tarigan mengatakan, diluar data formal, dikupas lebih dalam, religi pemena sesungguhnya bentuk kecerdasan elaboratif dan blended ekstraksi lapisan peradaban spiritualisme Tanah Hindustan dan Mediterian dengan kontek tempatan. Esensinya adalah ke-nusantaraan melampaui aspek legal formal ke-negara-negaraan. Atau sifat sebenarnya adalah universal.

Dikabulkannya permohonan penganut kepercayaan oleh Mahkamah Konstitusi, sebagai wujud tanggung jawab negara kepada warga negaranya. Maka kelompok penghayat religi pemena sudah dapat mengisi kolom pemena dalam Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga. Para penganut religi pemena yang tersisa bisa melakukan konsolidasi kembali secara terbuka ditengah publik hetrogen, tanpa terhalang seperti selama ini.

Terasa naif dan miris memang. Negara yang represif terlanjur “membunuh” budaya dan tradisi religi pemena. Keputusan Mahkamah Konstitusi yang bagai setawar sedingin menjadi terasa hambar. Seandainya sistem pengadilan kita di Era Orba seperti sekarang, kemungkinan besar Karo akan mirip seperti religi Bali.

Orang Karo meninggalkan pemena, tuduhan dan stigma ateis/PKI dan perbegu, diperkuat aturan dan Undang Undang yang represif memaksa mereka eksodus. Dari mayoritas menjadi minoritas dan hampir punah. Secara diam-diam melaksanakan dan menjalankan ritualitas, tidak berani secara terbuka menjalankannya di tengah publik. Akankah mereka yang terlanjur eksodus dan telah regeneratif hayati agamanya, akan kembali menjadi penghayat religi pemena. Saya rasa tidak akan, tetapi yang ada akan lakukan konsolidasi dan menyentuh sisa sisa “Tengkorak” religi pemena ini.(*)

 

Teks Foto:

  1. Wara Sinuhaji, M. Hum (Dosen Ilmu Sejarah FIB USU.
  2. Masyarakat Karo adalah suku bangsayang mendiami wilayah  Kabupaten Karo, Kabupaten Aceh TimurKabupaten LangkatKabupaten DairiKabupaten Simalungun, dan Kabupaten Deli Serdang. Mereka memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo atau Cakap Karo.
  3. Pakaian Wanita Karo didominasi dengan warna merahdan hitam serta penuh dengan perhiasan emas.

6 COMMENTS

  1. Hello would you mind sharing which blog platform
    you’re using? I’m going to start my own blog in the
    near future but I’m having a difficult time making a decision between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal.
    The reason I ask is because your design seems different then most
    blogs and I’m looking for something completely unique.
    P.S Apologies for getting off-topic but I
    had to ask!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here